Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan syariat Islam, di mana mengenal Allah Swt (Ma’rifatullah) menjadi titik awal bagi setiap mukallaf untuk mencapai kesempurnaan iman. Para ulama kalam, khususnya dari madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematisasi sifat-sifat Allah ke dalam kategori Sifat Wajib, Sifat Mustahil, dan Sifat Jaiz. Sifat wajib bagi Allah bukanlah sekadar atribut tambahan, melainkan keniscayaan zatiah yang membedakan antara Sang Khalik dengan makhluk. Secara epistemologis, pemahaman terhadap sifat-sifat ini memerlukan perpaduan antara pendekatan tekstual (naqli) yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits, serta pendekatan rasional (aqli) untuk mematahkan keraguan para pengingkar tuhan. Artikel ini akan membedah secara komprehensif beberapa sifat utama yang menjadi pilar ketuhanan.
Sifat yang pertama dan paling mendasar adalah Wujud. Keberadaan Allah Swt adalah sebuah keniscayaan yang bersifat absolut (Wajibul Wujud). Secara logika, adanya alam semesta yang teratur ini mustahil terjadi tanpa adanya pencipta yang mengaturnya. Para ulama menegaskan bahwa wujud Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak akan diakhiri oleh ketiadaan. Hal ini menjadi pembeda fundamental antara wujud Tuhan yang bersifat qadim (dahulu tanpa awal) dengan wujud makhluk yang bersifat hadits (baru).
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Terjemahan: Tidak ada tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An’am: 102-103).
Syarah: Ayat ini menegaskan sifat Wujud Allah melalui peran-Nya sebagai Khaliq (Pencipta). Secara teologis, pengakuan atas eksistensi Allah menuntut penghambaan total. Kalimat Wa Huwa Yudrikul Abshar menunjukkan bahwa wujud Allah melampaui batas persepsi indrawi manusia. Dalam kajian tafsir, ini adalah dalil tanzih (penyucian) bahwa eksistensi Allah tidak terikat oleh ruang, waktu, maupun dimensi fisik yang bisa dijangkau oleh penglihatan makhluk yang terbatas.
Setelah memahami wujud-Nya, kita harus memahami sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa (Kekal). Allah Swt tidak memiliki titik awal dalam keberadaan-Nya dan tidak memiliki titik akhir dalam keabadian-Nya. Jika Allah memiliki awal, maka Dia adalah makhluk yang memerlukan pencipta lain, dan ini akan menyebabkan tasalsul (rantai penciptaan tanpa ujung) yang mustahil secara logika. Sifat Baqa menjamin bahwa Allah tetap ada setelah seluruh alam semesta ini fana.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3).
Syarah: Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fil I’tiqad menjelaskan bahwa Al-Awwal berarti keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu tanpa ada permulaan zaman. Al-Akhir berarti keberadaan-Nya tetap ada setelah segala sesuatu binasa tanpa ada batas akhir. Sifat Qidam dan Baqa ini menghancurkan konsep ketuhanan yang bersifat temporal. Allah adalah zat yang berdiri sendiri (Qiyamuhu Binafsihi) dan tidak membutuhkan ruang atau waktu untuk eksis, karena Dialah yang menciptakan ruang dan waktu tersebut.

