Mengenal Allah Swt atau Ma'rifatullah merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukalaf sebelum menjalankan syariat. Dalam tradisi keilmuan akidah yang dirumuskan oleh para imam Asy'ariyah dan Maturidiyah, pemahaman mengenai sifat-sifat Allah dikategorikan secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat Allah). Kajian ini akan membedah secara mendalam struktur sifat-sifat wajib yang terbagi dalam empat klasifikasi utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Penjelasan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konklusi logis dari perenungan terhadap alam semesta dan petunjuk wahyu yang mutawatir.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَجَبَ لَهُ الْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، وَتَنَزَّهَ عَنِ الشَّرِيكِ وَالْأَشْبَاهِ وَالْأَعْضَاءِ، الْوَاحِدِ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ، الَّذِي لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. اِعْلَمْ أَنَّ مَعْرِفَةَ اللَّهِ تَعَالَى هِيَ أَصْلُ الدِّينِ وَأَسَاسُ الْيَقِينِ، وَلَا تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُودِ بِمَا يَجِبُ لَهُ مِنْ صِفَاتِ الْجَلَالِ وَالْكَمَالِ، وَمَا يَسْتَحِيلُ عَلَيْهِ مِنْ صِفَاتِ النَّقْصِ وَالْمُحَالِ.

Dalam Artikel

Segala puji bagi Allah yang wajib bagi-Nya sifat Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), dan Baqa (Kekal). Dia Maha Suci dari sekutu, keserupaan, dan organ tubuh. Dia Maha Esa dalam Dzat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ketahuilah bahwa mengenal Allah Ta'ala adalah pokok agama dan fondasi keyakinan. Ibadah tidaklah sah kecuali setelah mengenal Dzat yang disembah dengan apa yang wajib bagi-Nya dari sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan, serta apa yang mustahil bagi-Nya dari sifat-sifat kekurangan dan kemustahilan. Penjelasan ini menegaskan bahwa sifat Wujud adalah Sifat Nafsiyyah, yaitu hal yang tetap pada dzat selama dzat itu ada, tanpa memerlukan sebab eksternal.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. وَهَذِهِ السُّورَةُ الْعَظِيمَةُ تَجْمَعُ أَصْلَ التَّنْزِيهِ وَتَنْفِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى كُلَّ مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، فَالْأَحَدِيَّةُ تَنْفِي التَّعَدُّدَ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ، وَالصَّمَدِيَّةُ تُوجِبُ لَهُ الْغِنَى الْمُطْلَقَ وَافْتِقَارَ كُلِّ مَا سِوَاهُ إِلَيْهِ، وَنَفْيُ الْوِلَادَةِ يَنْفِي الْجِنْسِيَّةَ وَالتَّرْكِيبَ وَالْجِسْمِيَّةَ.

Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Surah yang agung ini menghimpun pokok penyucian (tanzih) dan meniadakan dari Allah segala hal yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Sifat Ahadiyyah (Keesaan) meniadakan adanya berbilang pada Dzat dan Sifat. Sifat Shamadiyyah (Tempat bergantung) mewajibkan bagi-Nya kekayaan mutlak (Al-Ghina al-Mutlaq) dan ketergantungan seluruh makhluk kepada-Nya. Sedangkan peniadaan kelahiran menafikan adanya jenis, susunan partikel, dan kebendaan (jismiah) pada Dzat Allah Swt. Ini mencakup sifat Salbiyyah seperti Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk) dan Qiyamuhu Binafsih (Berdiri sendiri).

ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ يُوجِدُ بِهَا وَيُعْدِمُ، وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.

Kemudian sesungguhnya Allah Ta'ala disifati dengan Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala. Sifat-sifat tersebut adalah Qudrat (Kuasa), Iradat (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Allah berfirman: Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: Jadilah! maka terjadilah ia. Maka Qudrat adalah sifat yang dengannya Allah mewujudkan dan meniadakan segala sesuatu. Iradat adalah sifat yang dengannya Allah mengkhususkan hal-hal yang mungkin terjadi dengan sebagian keadaan yang diperbolehkan baginya. Ilmu adalah sifat yang dengannya segala sesuatu tersingkap secara jelas sesuai hakikatnya tanpa ada kemungkinan keliru sedikit pun. Hubungan antara Qudrat dan Iradat bersifat fungsional dalam penciptaan alam semesta.

وَأَمَّا كَلَامُ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ، لَيْسَ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، وَلَا يَتَقَدَّمُ وَلَا يَتَأَخَّرُ، لِأَنَّ الْحُرُوفَ وَالْأَصْوَاتَ حَادِثَةٌ، وَاللَّهُ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ الْحَوَادِثِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. فَالْكَلَامُ النَّفْسِيُّ هُوَ الصِّفَةُ الْقَدِيمَةُ، وَأَمَّا الْكُتُبُ الْمُنَزَّلَةُ فَهِيَ دَالَّةٌ عَلَى ذَلِكَ الْكَلَامِ الْقَدِيمِ، وَالْمَدْلُولُ قَدِيمٌ وَالدَّالُّ حَادِثٌ مِنْ حَيْثُ النُّطْقِ وَالْكِتَابَةِ لَا مِنْ حَيْثُ كَوْنِهِ كَلَامَ اللَّهِ.

Adapun Kalam Allah Ta'ala adalah sifat azali yang berdiri pada Dzat-Nya, bukan berupa huruf dan bukan pula suara, tidak mendahului dan tidak pula terkemudian, karena huruf dan suara adalah makhluk yang baru (hadits), sedangkan Allah Ta'ala Maha Suci dari segala sesuatu yang baru. Allah Ta'ala berfirman: Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. Maka Kalam Nafsi adalah sifat yang qadim (dahulu). Adapun kitab-kitab yang diturunkan (seperti Al-Quran) adalah penunjuk atas Kalam yang qadim tersebut. Hal yang ditunjuk (madlul) bersifat qadim, sedangkan penunjuknya (dal) bersifat baru dari segi pengucapan dan penulisan, namun bukan dari segi kedudukannya sebagai firman Allah yang hakiki. Pemisahan ini penting untuk menghindari pemahaman tajsim dalam memahami wahyu.