Kajian mengenai sifat-sifat Allah merupakan puncak dari segala ilmu (asyraf al-ulum) karena kemuliaan suatu disiplin ilmu bergantung pada objek yang dipelajarinya. Dalam tradisi teologi Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap sifat-sifat Allah disusun secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Pemahaman mendalam mengenai dua puluh sifat wajib ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses dialektika intelektual yang memadukan wahyu Al-Quran dengan nalar sehat. Para ulama merumuskan sifat-sifat ini dalam kategori Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah untuk memberikan kerangka berpikir yang kokoh bagi setiap mukallaf dalam mengenal Rabbnya secara benar dan terhindar dari kesesatan berpikir.

الْأَصْلُ فِي هَذَا الْبَابِ هُوَ الْوُجُودُ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى وَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ، لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ، وَهُوَ الْقَدِيمُ الَّذِي لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ، وَالْبَاقِي الَّذِي لَا انْتِهَاءَ لِعَظَمَتِهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَالْقِدَمُ هُنَا عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، فَكُلُّ مَا سِوَاهُ حَادِثٌ مَسْبُوقٌ بِالْعَدَمِ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ لِأَنَّهُمَا مِنْ جُمْلَةِ مَخْلُوقَاتِهِ، وَالْخَالِقُ لَا يَحُلُّ فِي مَخْلُوقِهِ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

Prinsip dasar dalam bab ini adalah sifat Wujud (Ada). Allah Ta'ala adalah Dzat yang Wajib al-Wujud (pasti adanya) karena Dzat-Nya sendiri, tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya. Dia adalah al-Qadim (Maha Dahulu) yang tidak memiliki permulaan bagi eksistensi-Nya, dan al-Baqi (Maha Kekal) yang tidak memiliki akhir bagi keagungan-Nya. Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 3: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Sifat Qidam di sini bermakna peniadaan ketiadaan yang mendahului eksistensi. Segala sesuatu selain Allah adalah baharu (hadits) yang didahului oleh ketiadaan, sedangkan Allah Maha Suci dari keterikatan ruang dan waktu karena keduanya adalah ciptaan-Nya. Secara logis, pencipta tidak mungkin menempati ciptaannya atau bergantung padanya. Inilah yang mendasari sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi, yakni kemustahilan Allah menyerupai makhluk-Nya dalam hal apa pun.

وَمِنْ عَظِيمِ صِفَاتِهِ التَّعَالِي عَنِ الْمُمَاثَلَةِ وَالنَّقْصِ، وَهُوَ مَا يُعْرَفُ بِالْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ. فَلَا شَرِيكَ لَهُ فِي مُلْكِهِ، وَلَا مُعِينَ لَهُ فِي صُنْعِهِ. قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَنَفَى سُبْحَانَهُ عَنْ نَفْسِهِ الْمُمَاثَلَةَ لِلْحَوَادِثِ بِقَوْلِهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، وَأَثْبَتَ لِنَفْسِهِ صِفَاتِ الْكَمَالِ بِقَوْلِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَهَذَا هُوَ التَّنْزِيهُ الْمُطْلَقُ الَّذِي يَقْطَعُ أَطْمَاعَ الْوَهْمِ فِي إِدْرَاكِ كُنْهِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ، إِذْ كُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

Di antara sifat agung-Nya adalah keluhuran dari penyerupaan dan kekurangan, yang dikenal sebagai Wahdaniyyah (Keesaan) pada Dzat, Sifat, dan Perbuatan. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan tidak ada pembantu dalam penciptaan-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 11: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dalam ayat ini, Allah menafikan keserupaan dengan makhluk melalui kalimat Laisa Kamitslihi Syaiun, sekaligus menetapkan sifat kesempurnaan bagi diri-Nya dengan kalimat wa Huwa al-Sami' al-Bashir. Inilah konsep Tanzih (penyucian) mutlak yang memutus segala imajinasi manusia dalam mencoba memahami hakikat Dzat Allah yang luhur. Sebuah kaidah teologis penting menyebutkan: Apa pun yang terlintas dalam benakmu (mengenai rupa Allah), maka Allah tidaklah demikian. Keesaan Allah mencakup penafian Kam Muttashil (bilangan yang menyatu) dan Kam Munfashil (bilangan yang terpisah) pada Dzat dan Sifat-Nya.

ثُمَّ إِنَّ قِيَامَهُ بِالنَّفْسِ يَعْنِي اسْتِغْنَاءَهُ الْمُطْلَقَ عَنِ الْمَحَلِّ وَالْمُخَصِّصِ، فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى ذَاتٍ يَقُومُ بِهَا وَلَا إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ. وَيَتْبَعُ ذَلِكَ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. فَهَذِهِ الصِّفَاتُ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، لَيْسَتْ عَيْنَ الذَّاتِ وَلَا غَيْرَ الذَّاتِ فِي مَفْهُومِ التَّغَايُرِ الِانْفِصَالِيِّ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: