Sistem ekonomi Islam dibangun di atas fondasi keadilan, transparansi, dan kemaslahatan bersama (maslahah mursalah). Berbeda dengan sistem ekonomi konvensional yang menempatkan modal sebagai komoditas yang dapat beranak-pinak dengan sendirinya melalui instrumen bunga, Islam memandang uang hanyalah sebagai alat tukar dan penyimpan nilai, bukan komoditas yang dapat diperjualbelikan secara mandiri. Dalam diskursus Fiqih Muamalah, pelarangan riba menempati posisi krusial karena dampaknya yang secara langsung merusak sendi-sendi keadilan sosial dan mendistorsi sektor riil. Para ulama lintas mazhab telah sepakat bahwa riba merupakan salah satu dosa besar yang merusak tatanan kehidupan dunia dan akhirat. Untuk memahami hakikat riba secara komprehensif, kita harus merujuk pada teks-teks otoritatif syariat, baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah, serta menggali bagaimana para fukaha merumuskan solusi alternatif yang syar'i guna menjawab tantangan zaman.
[TEKS ARAB BLOK 1]
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]
Terjemahan: Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya terserah kepada Allah. Barangsiapa kembali (mengambil riba), maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 275)
Syarah dan Tafsir:
Dalam ayat yang agung ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan tasybih (penyerupaan) yang sangat mengerikan bagi para pelaku riba. Imam Ibnu Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mereka akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat dalam keadaan sempoyongan, tidak seimbang, bagaikan orang yang kerasukan setan. Secara sosiologis dan psikologis, visualisasi ini menggambarkan ketamakan yang tidak pernah terpuaskan dari para pemakan riba di dunia, yang hidupnya selalu diling

