Ibadah puasa atau ash-shiyam merupakan salah satu pilar fundamental dalam struktur keislaman yang menuntut pemahaman mendalam melampaui sekadar penahanan lapar dan dahaga. Secara epistemologis, puasa adalah manifestasi ketundukan hamba yang diatur melalui koridor hukum yang sangat rigid guna memastikan keabsahannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Para ulama dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali telah merumuskan kodifikasi hukum yang sangat detail terkait syarat-syarat yang mendahului ibadah (shurut) serta pilar-pilar internal yang membangun esensi ibadah tersebut (arkan). Tanpa terpenuhinya unsur-unsur ini, sebuah amalan puasa dapat terjatuh pada derajat kesia-siaan secara legalistik formal di dalam syariat.
TEKS ARAB BLOK 1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . وَالصَّوْمُ فِي الشَّرِيعَةِ هُوَ الْإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ نِيَّةٍ مَخْصُوصَةٍ . وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ لِلصَّوْمِ شُرُوطًا لَا يَصِحُّ إِلَّا بِهَا وَأَرْكَانًا يَقُومُ عَلَيْهَا بِنَاءُ هَذِهِ الْعِبَادَةِ الْعَظِيمَةِ لِتَحْقِيقِ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ فِي تَزْكِيَةِ النَّفْسِ وَتَقْوَى اللَّهِ .
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Secara terminologi syariat, puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan dimulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari dengan niat yang khusus. Para ulama telah mencapai konsensus (ijma) bahwa puasa memiliki syarat-syarat yang menentukan keabsahannya serta rukun-rukun yang menjadi penyangga utama ibadah ini. Tafsir atas ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban puasa memiliki kontinuitas sejarah kenabian, namun dengan spesifikasi hukum yang disempurnakan dalam risalah Muhammadiyah. Penggunaan kata Kutiba (diwajibkan) mengindikasikan ketetapan hukum yang bersifat qath'i (pasti), di mana syarat dan rukun menjadi variabel penentu apakah kewajiban tersebut telah gugur dari pundak mukallaf atau belum.
TEKS ARAB BLOK 2
أَمَّا النِّيَّةُ فَهِيَ الرُّكْنُ الْأَوَّلُ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ وَشَرْطٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ . لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . وَيَجِبُ تَبْيِيتُ النِّيَّةِ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ مِنَ اللَّيْلِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ لِحَدِيثِ : مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ . بَيْنَمَا ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى جَوَازِ النِّيَّةِ فِي رَمَضَانَ إِلَى مَا قَبْلَ نِصْفِ النَّهَارِ لِلتَّيْسِيرِ عَلَى الْمُكَلَّفِينَ .
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Adapun niat merupakan rukun pertama menurut mayoritas ahli fiqih (Syafi'i, Maliki, Hanbali) dan merupakan syarat menurut Madzhab Hanafi. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Dalam puasa wajib, Madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali mewajibkan Tabyit (menginapkan niat) pada malam hari sebelum fajar, berdasarkan hadits: Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. Sebaliknya, Madzhab Hanafi memberikan rukhshah (keringanan) dengan membolehkan niat puasa Ramadhan dilakukan hingga sebelum tengah hari (zawal), dengan argumen untuk mempermudah mukallaf yang mungkin lupa atau tertidur sebelum sempat berniat di malam hari. Perbedaan ini merupakan khazanah pemikiran hukum Islam dalam memahami teks hadits secara tekstual maupun kontekstual.

