Kajian mengenai ketuhanan (ilahiyyat) dalam tradisi intelektual Islam merupakan puncak dari segala disiplin ilmu. Para ulama ushuluddin, khususnya dari mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi yang sangat ketat dalam memahami Zat dan Sifat Allah Swt. Pendekatan ini tidak hanya bersandar pada teks-teks wahyu (dalil naqli), tetapi juga diperkuat oleh argumentasi rasional (dalil aqli) yang kokoh guna membantah syubhat dari kaum ateis, agnostik, maupun aliran-aliran teologis yang menyimpang. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses penalaran mendalam untuk mengokohkan fondasi keimanan seorang mukmin agar terhindar dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (penafian sifat-sifat Allah).

BLOK 1: SIFAT WUJUD SEBAGAI FONDASI EKSISTENSIAL

Dalam Artikel

Epistemologi akidah Islam menempatkan sifat Wujud sebagai fondasi utama dari seluruh konstruksi teologis. Sifat ini dikategorikan sebagai sifat nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan esensi Zat Allah tanpa adanya tambahan pada Zat tersebut. Pengenalan terhadap wujud Allah didasarkan pada dalil rasional melalui keteraturan alam semesta (huduth al-alam) dan dalil tekstual yang mutawatir.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا ل