Disiplin ilmu tauhid atau yang sering diistilahkan sebagai ilmu kalam merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang mukmin. Di antara pembahasan paling krusial dalam ilmu ini adalah pemahaman mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Para ulama mutakallimin, khususnya dari mazhab Asy-A'irah dan Al-Maturidiyyah yang merepresentasikan Ahlus Sunnah wal Jamaah, telah merumuskan sistematika berpikir yang sangat metodis untuk memahami sifat-sifat Allah. Perumusan ini bukan bertujuan untuk membatasi kesempurnaan Allah yang sejatinya tidak terbatas, melainkan sebagai sarana edukatif bagi akal manusia agar terhindar dari dua jurang kesesatan: penyerupaan Allah dengan makhluk (tashbih atau tamthil) dan penafian eksistensi serta sifat-sifat Allah (ta'til). Melalui pendekatan integratif antara dalil naqli (teks Al-Quran dan Hadits) serta dalil aqli (argumentasi rasional), para ulama memetakan sifat-sifat wajib ini ke dalam beberapa kategori, yaitu nafshiyyah, salbiyyah, ma'ani, dan ma'nawiyyah.

Pembahasan pertama yang menjadi asas dari seluruh teologi Islam adalah menetapkan sifat Wujud (Ada) bagi Allah Swt. Sifat ini dikategorikan sebagai sifat nafshiyyah, yaitu sifat yang dengannya Dzat Allah ada, di mana keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Secara rasional, eksistensi alam semesta yang bersifat baru (hadith) dan penuh dengan keteraturan ini

Dalam Artikel