Ilmu Tauhid atau Kalam merupakan fundamen tertinggi dalam struktur keilmuan Islam. Dalam tradisi epistemologi Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, pemahaman terhadap hakikat ketuhanan disusun secara rasional dan tekstual melalui pembagian hukum akal, yakni wajib, mustahil, dan ja'iz. Pemikiran mendasar ini dikristalisasikan oleh para ulama seperti Imam Abu Al-Hasan Al-Asy'ari dan Imam Al-Sanusi dalam mendefinisikan Sifat Wajib bagi Allah Swt, yakni sifat-sifat keagungan yang secara akal tidak dipahami melainkan pasti ada pada zat Allah Swt, serta secara syariat didukung oleh dalil-dalil qath'i dari Al-Quran dan As-Sunnah. Struktur ini dikelompokkan menjadi empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah.

Pembahasan diawali dari fondasi eksistensial Allah Swt melalui sifat Nafsiyyah dan penafsiran sifat-sifat Salbiyyah yang menyucikan zat-Nya dari segala sifat kekurangan. Berikut adalah analisis teks utama yang menjadi pijakan dasar keberadaan Allah Swt yang azali dan abadi.

Dalam Artikel

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . قَالَ الْإِمَامُ الْبَيْضَاوِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ: هُوَ الْأَوَّلُ السَّابِقُ عَلَى كُلِّ مَوْجُودٍ لِأَنَّهُ الْمُوجِدُ لَهُ، وَالْآخِرُ الْبَاقِي بَعْدَ فَنَاءِ كُلِّ مَخْلُوقٍ.

Terjemahan dan Syarah Textual Blok 1:

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Surah Al-Hadid: 3). Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan: Dialah Yang Awal, yaitu yang mendahului seluruh keberadaan karena Dialah yang mewujudkannya, dan Dialah Yang Akhir, yaitu yang tetap ada secara abadi setelah kemusnahan seluruh makhluk.

Dari teks di atas, ulama ilmu kalam menyimpulkan tiga sifat wajib mendasar, yaitu Wujud (keberadaan), Qidam (keazalian tanpa permulaan), dan Baqa' (keabadian tanpa akhir). Sifat Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yakni sifat yang membuktikan keberadaan Zat tanpa menambahkan makna baru di luar keberadaan Zat itu sendiri. Secara logika akal (burhan aqli), jika alam semesta ini bersifat baharu (hadits) dan berubah-ubah, maka secara pasti dibutuhkan wujud yang mendahuluinya (Al-Awwal) yang keberadaannya bersifat mutlak (Wajib al-Wujud) dan tidak didahului oleh ketiadaan (Qidam).

Selanjutnya, penyucian Zat Allah Swt dari penyerupaan terhadap makhluk (tasybih dan tajsim) ditegaskan dalam kategori Sifat Salbiyyah, yang menegasikan seluruh sifat kekurangan dari Allah Swt. Teks berikut menjadi kaidah tertinggi dalam metodologi Tanzih (penyucian ketuhanan).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . قَالَ الْإِمَامُ أَبُو جَعْفَرٍ الطَّحَاوِيُّ: تَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

Terjemahan dan Syarah Textual Blok 2: