Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam merupakan salah satu disiplin ilmu paling mulia dalam hierarki keilmuan Islam karena objek kajiannya berhubungan langsung dengan Zat dan Sifat Allah Tabaraka wa Ta'ala. Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya yang mengikuti manhaj Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, telah menyusun sistem epistemologi yang sangat sistematis untuk memahami akidah Islamiah. Salah satu karya fenomenal yang menjadi rujukan utama dalam memetakan Sifat-sifat Wajib bagi Allah adalah kitab Umm al-Barahin karya Imam Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi. Dalam metodologi ini, sifat-sifat wajib diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Pemahaman terhadap sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi rasional dan rasionalitas iman yang dibangun di atas dalil 'Aqli (rasional) dan Naqli (teks Al-Qur'an dan As-Sunnah) guna menjaga kesucian tauhid dari paham tajsim (merealisasikan Allah seperti makhluk) dan ta'thil (menolak sifat-sifat Allah).
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. قَالَ الْإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ السَّنُوسِيُّ فِي أُمِّ الْبَرَاهِينِ: فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً، فَالْأُولَى الْوُجُودُ، ثُمَّ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ، وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ، وَقِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ.
Terjemahan dan Syarah Akidah Block 1:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. Al-Hadid: 3). Berkata Al-Imam Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi dalam kitab Umm al-Barahin: Maka di antara sifat yang wajib bagi Penguasa kita yang Maha Agung dan Maha Mulia adalah dua puluh sifat. Sifat yang pertama adalah al-Wujud (Ada), kemudian al-Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), al-Baqaa' (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatuhu lil-Hawaditsi (Berbeda dari segala makhluk), dan Qiyamuhu binafsihi (Berdiri sendiri tanpa membutuhkan tempat atau penentu).
Dalam kutipan di atas, Imam al-Sanusi meletakkan fondasi Sifat Nafsiyyah dan Sifat Salbiyyah. Sifat Wujud tergolong Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjukkan keberadaan Zat Allah itu sendiri tanpa ada tambahan makna lain. Wujud-Nya Allah adalah Wajib al-Wujud (keberadaan yang mustahil tidak ada secara rasional), berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat Ja'iz atau Mumkin al-Wujud (boleh ada dan boleh tidak ada). Selanjutnya, tiga sifat berikutnya tergolong Sifat Salbiyyah, yakni sifat-sifat yang berfungsi menafikan atau menolak hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Al-Qidam menafikan adanya permulaan bagi wujud Allah, menunjukkan bahwa Allah ada sebelum waktu dan ruang diciptakan. Al-Baqaa' menafikan adanya kebinasaan atau kepunahan bagi-Nya. Pemahaman ini sangat krusial agar seorang mukmin tidak terjebak pada pemikiran bahwa Tuhan terikat oleh siklus lahir dan mati sebagaimana alam semesta.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. قَالَ الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ فِي الِاقْتِصَادِ فِي الْإِعْتِقَادِ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجَوْهَرِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ، فَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ، بَلْ هُوَ خَالِقُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَهُوَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.
Terjemahan dan Syarah Akidah Block 2:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S. Ash-Shura: 11). Berkata Al-Imam al-Ghazali dalam kitab al-Iqtishad fi al-I'tiqad: Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Suci dari sifat kejasmanian (jismiyyah), substansi bermassa (jawhariyyah), dan sifat

