Disiplin ilmu kalam atau teologi Islam merupakan fondasi utama dalam memahami pilar-pilar keimanan. Di antara rumusan metodologis yang paling mapan dalam tradisi intelektual Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, adalah kategorisasi sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah ikhtiar epistemologis untuk mengenal Sang Pencipta (Ma'rifatullah) secara benar dan terhindar dari dua ekstremitas: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'til (menafikan sifat-sifat Allah). Kajian ini akan membedah lima klaster utama dari sifat-sifat wajib tersebut menggunakan pendekatan integratif antara dalil naqli (Al-Quran dan Sunnah) serta dalil aqli (logika teologis).

[BLOK BILINGUAL 1]

Dalam Artikel

Eksistensi Allah Swt merupakan kebenaran mutlak yang menjadi titik tolak seluruh sistem keimanan. Dalam kajian teologi, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada), yang diikuti oleh sifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan). Para ulama mutakallimin menegaskan bahwa keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan berubah-ubah merupakan bukti rasional paling nyata akan adanya Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (pasti adanya) dan tidak didahului oleh ketiadaan. Jika Pencipta tersebut tidak bersifat Qidam, maka akan terjadi lingkaran setan kemustahilan logika yang disebut daur (saling membutuhkan) atau tasalsul (mata rantai penciptaan tanpa akhir yang tidak berhulu).

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ. هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4). Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3).

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Dalam ayat pertama, penggunaan kata "khalaqa" (menciptakan) menegaskan bahwa alam semesta ini adalah entitas yang asalnya tidak ada kemudian menjadi ada (mumkin al-wujud). Secara logika, segala sesuatu yang beralih dari tiada menjadi ada membutuhkan "Muhiits" atau aktor eksternal yang mengaturnya. Aktor tersebut adalah Allah Swt yang bersifat Wujud. Selanjutnya, pada surat Al-Hadid ayat 3, nama "Al-Awwal" secara eksplisit ditafsirkan oleh para ulama tafsir seperti Imam Al-Qurtubi dan Imam Ibn Katsir sebagai sifat Qidam. Makna "Al-Awwal" di sini bukanlah awal yang bersifat temporal atau waktu yang memiliki garis start, melainkan awal yang mutlak yang menafikan adanya permulaan bagi eksistensi-Nya. Logika aqli menegaskan bahwa jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini mustahil bagi zat ketuhanan.

[BLOK BILINGUAL 2]

Setelah menetapkan sifat Wujud dan Qidam, teologi Islam menekankan pentingnya menjaga kesucian zat Allah dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk. Sifat ini dikenal sebagai Mukhalafatu lil-Hawaditsi (berbeda dengan makhluk). Konsep ini merupakan benteng pertahanan akidah Islam dari bahaya antropomorfisme (tajsim), yaitu menggambarkan Allah memiliki organ fisik atau batasan spasial seperti manusia. Allah maha suci dari arah, tempat, dimensi, bentuk, warna, dan seluruh karakteristik materi yang melekat pada makhluk ciptaan-Nya.