Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman akidah yang lurus, seluruh amal ibadah terancam kehilangan nilai di hadapan Allah Swt. Di antara rumusan metodologis yang paling sistematis dan diakui oleh mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepanjang sejarah adalah formulasi dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Penyusunan dua puluh sifat ini bukanlah sebuah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tanpa batas, melainkan sebuah ikhtiar epistemologis untuk membimbing akal manusia agar terhindar dari dua jurang kesesatan: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'til (menafikan keberadaan sifat-sifat Allah). Para ulama membagi sifat-sifat ini ke dalam empat kategori utama, yaitu Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Melalui pendekatan ilmiah yang menggabungkan dalil aqli (rasional) dan naqli (tekstual Al-Quran dan Hadits), artikel ini akan membedah secara mendalam lima pilar sifat wajib Allah sebagai representasi dari keagungan zat-Nya.
Pembahasan pertama dimulai dari sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri, yang dengannya zat tersebut ada. Sifat ini adalah Al-Wujud (Ada). Keberadaan Allah adalah mutlak, bersifat azali (tanpa permulaan) serta abadi, sangat berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat jaiz al-wujud (mungkin ada dan mungkin tiada). Dalil naqli yang sangat kuat mengenai eksistensi-Nya secara mandiri tanpa membutuhkan ruang dan waktu terdapat dalam Al-Quran Surah Thaha ayat 14.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Terjem

