Ibadah doa merupakan poros utama dalam relasi transendental antara makhluk dengan Sang Khalik. Secara epistemologis, doa bukan sekadar permohonan pragmatis untuk memenuhi kebutuhan temporal manusia, melainkan sebuah bentuk pengakuan mutlak atas kefakiran eksistensial manusia di hadapan kekayaan absolut Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam diskursus teologi Islam, doa dikategorikan sebagai inti dari ibadah (mukhkhul ibadah) karena di dalamnya terkandung unsur ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan total. Namun, agar doa tidak sekadar menjadi retorika lisan yang hampa, syariat Islam telah menetapkan formulasi adab batiniah serta dimensi ruang dan waktu tertentu yang memiliki signifikansi teologis dalam mempercepat datangnya ijabah (jawaban). Artikel ini akan membedah secara mendalam, ilmiah, dan berbasis teks
Formulasi Teologis dan Metodologis Mustajabnya Doa: Analisis Komprehensif Adab dan Waktu-Waktu Utama Berdasarkan Epistemologi Tafsir dan Hadits
Redaksi
30-05-2026 • 22 : 18 WIB
•
10713 Views
Ilustrasi: Formulasi Teologis dan Metodologis Mustajabnya Doa: Analisis Komprehensif Adab dan Waktu-Waktu Utama Berdasarkan Epistemologi Tafsir dan Hadits
