Kajian mengenai ketuhanan dalam Islam menuntut kehati-hatian metodologis yang mempertemukan keluhuran wahyu dengan kejernihan akal budi. Di dalam tradisi intelektual Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya madzhab teologi Asy'ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap khalik dirumuskan secara sistematis melalui pengenalan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat-sifat ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan-Nya yang tanpa batas, melainkan sebuah formulasi epistemologis untuk menyelamatkan akal manusia dari dua jurang kesesatan: ta'thil (menafikan sifat Tuhan) dan tasybih (menyerupakan Tuhan dengan makhluk). Melalui metodologi ilmiah yang ketat, para ulama mutakallimin membagi sifat-sifat wajib ini ke dalam beberapa kategori, yaitu nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah. Artikel ini akan membedah secara mendalam lima pilar utama dari sifat-sifat tersebut dengan menyandingkan teks otoritatif Al-Quran beserta syarah teologisnya yang komprehensif.

BAGIAN SATU: SIFAT WUJUD (EKSISTENSI ALLAH)

Dalam Artikel

Kajian teologi Islam atau Ilmu Kalam menempatkan makrifatullah sebagai fondasi utama beragama. Sifat pertama yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf adalah Wujud, yang dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah. Sifat nafsiyah adalah sifat yang dengannya zat itu ada, di mana akal tidak dapat menggambarkan adanya zat tanpa adanya sifat tersebut, tanpa adanya illah atau sebab yang melahirkannya. Keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan mutlak (wajib al-wujud), berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (jaiz al-wujud). Dalil mengenai wujud-Nya terpampang nyata dalam keteraturan kosmos ini, yang secara rasional tidak mungkin tercipta dengan sendirinya tanpa adanya penggerak pertama yang tidak digerakkan.

أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى

Terjemahan: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta