Disiplin ilmu akidah Islam, khususnya yang dirumuskan oleh mazhab Asy-ariyah dan Maturidiyah sebagai representasi utama Ahlus Sunnah wal Jamaah, menempatkan ma'rifatullah atau mengenal Allah sebagai kewajiban pertama bagi setiap mukalaf. Pengenalan ini tidak didasarkan pada spekulasi liar atau khayalan antropomorfis, melainkan pada integrasi harmonis antara wahyu yang suci (dalil naqli) dan nalar akal yang sehat (dalil aqli). Dalam merumuskan konsep ketuhanan yang murni dari noda penyerupaan (tashbih) dan penafian (ta'thil), para ulama mutakallimin merumuskan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt yang secara garis besar dikelompokkan menjadi sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Formulasi ini berfungsi sebagai benteng epistemologis yang menjaga kemurnian tauhid dari berbagai distorsi pemikiran filsafat kuno maupun teologi menyimpang.

Berikut adalah rekonstruksi ilmiah mengenai sifat-sifat wajib tersebut melalui lima blok analisis tekstual dan kontekstual yang mendalam.

Dalam Artikel

BLOK 1: Sifat Wujud, Qidam, dan Baqa sebagai Fondasi Eksistensial

Eksistensi Allah Swt adalah sebuah keniscayaan mutlak (Wajib al-Wujud) yang tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Berbeda dengan makhluk yang bersifat mungkin adanya (Mumkin al-Wujud), keberadaan Allah tidak membutuhkan pencipta atau sebab eksternal. Sifat Qidam menegaskan bahwa Allah Maha Terdahulu tanpa ada permulaan bagi eksistensi-Nya, sedangkan Baqa menetapkan bahwa Dia Kekal tanpa ada batas akhir. Ketiga sifat ini merupakan fondasi dasar untuk memahami seluruh sifat kesempurnaan-Nya yang lain. Tanpa menetapkan eksistensi yang azali dan abadi, konsep ketuhanan akan runtuh secara logis karena terjebak dalam lingkaran setan sebab-akibat yang tak berujung (daur dan tasalsul).

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al-Hadid, Ayat 3)

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Para mufassir dan ulama kalam menjelaskan bahwa penyebutan Al-Awwal dalam ayat ini secara tegas merujuk pada sifat Qidam. Allah ada sebelum segala sesuatu ada, dan keberadaan-Nya bersifat mutlak tanpa permulaan temporal. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa Al-Awwal berarti mendahului seluruh makhluk secara esensial, bukan dalam pengertian ruang atau waktu, karena waktu itu sendiri adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Selanjutnya, istilah Al-Akhir merujuk pada sifat Baqa, yaitu kekekalan yang tidak mengalami perubahan, kehancuran, atau kefanaan. Ketika seluruh alam semesta ini sirna, esensi Allah Swt tetap ada sebagaimana sedia kala. Penyebutan Al-Zhahir (Maha Nyata) mengindikasikan bahwa keberadaan-Nya sangat jelas melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta, sementara Al-Bathin (Maha Tersembunyi) menegaskan bahwa hakikat zat-Nya tidak dapat dijangkau oleh panca indera maupun imajinasi makhluk. Ayat ini secara komprehensif merangkum dimensi ontologis Allah sebagai pencipta yang mandiri dan terbebas dari dimensi ruang dan waktu.

BLOK 2: Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi sebagai Prinsip Transendensi Mutlak