Disiplin ilmu kalam atau teologi Islam merupakan salah satu pilar terpenting dalam menjaga kemurnian akidah Islam dari distorsi pemikiran filosofis yang menyimpang maupun pemahaman tekstualis yang ekstrem. Di antara rumusan metodologis yang paling kokoh dan sistematis dalam sejarah intelektual Islam adalah formulasi dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt yang dipopulerkan oleh mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya melalui jalur Asy'ariyah dan Maturidiyah. Formulasi ini bukanlah bid'ah dalam akidah, melainkan sebuah perangkat epistemologis (manhaj ilmi) yang dirancang oleh para ulama untuk memudahkan umat Islam dalam memahami hakikat ketuhanan berdasarkan tuntunan Al-Quran dan Sunnah yang diselaraskan dengan logika akal sehat (aqlus salim). Melalui pendekatan ini, keimanan seorang Muslim tidak hanya berdiri di atas doktrin taklid, melainkan berpijak pada keyakinan yang berbasis argumentasi ilmiah yang kokoh.
Pembahasan mengenai sifat wajib Allah senantiasa diawali dengan diskursus eksistensi-Nya (Wujud). Dalam epistemologi teologi Islam, wujud Allah bukanlah sesuatu yang baru atau diadakan, melainkan wujud zati yang bersifat mutlak. Para mutakallimin merumuskan dalil huduts (kebaruan alam semesta) sebagai bukti rasional yang tidak terbantahkan bahwa alam semesta yang bersifat mungkin (mumkinul wujud) ini mutlak membutuhkan pencipta yang wajib adanya (wajibbul wujud). Eksistensi pencipta ini menjadi fondasi awal sebelum melangkah pada sifat-sifat kesempurnaan berikutnya.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْت

