Idul Fitri dan Tantangan Menjadi Manusia Seutuhnya di Zaman Modern
Perspektif Bimbingan Konseling dan Nilai Karakter Tauhid Universitas
Djuanda
Ditulis oleh:
Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah Roestamy, S.Pd.I.,
M.Pd.I
(Rektor Universitas Djuanda / Guru Besar Manajemen
Bimbingan Konseling)
Bayangkan momen ini: adzan subuh
berkumandang, takbir menggema dari masjid ke masjid, udara pagi terasa berbeda
— lebih syahdu, lebih hening. Tapi di sudut ruangan, seorang anak muda sibuk
memilih filter terbaik untuk foto ketupat yang baru saja dihidangkan. Di
sebelahnya, sang ayah membalas puluhan pesan ucapan Idul Fitri di WhatsApp,
sementara ibu memastikan konten video reels lebaran sudah terpasang dengan
musik yang tepat.
Inilah potret Idul Fitri masa kini. Momen
ini sesungguhnya adalah cermin besar yang memantulkan kondisi psikologis dan
perkembangan diri kita — sejauh mana kita telah tumbuh, dan ke mana kita ingin
melangkah. Namun lebih dari sekadar refleksi psikologis, Idul Fitri sejatinya
adalah panggilan agung untuk kembali kepada fitrah yang paling asasi: menghamba
kepada Allah SWT. Dan di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang layak kita
renungkan bersama:
"Apakah kita benar-benar 'kembali fitrah', atau
hanya berganti kostum lebaran?"

