Pernah nggak sih kamu merasa kalau hidup kamu itu kayak lagi di film, tapi sayangnya kamu bukan pemeran utamanya? Di era TikTok dan Instagram, tren Main Character Syndrome bikin kita merasa harus selalu tampil sempurna, punya karier melejit di usia 20-an, dan punya feed yang estetik parah. Masalahnya, obsesi buat jadi pusat perhatian ini sering banget bikin kita burnout, cemas berlebihan, sampai kehilangan jati diri karena sibuk nyari validasi manusia. Akhirnya, mental health kita yang jadi taruhannya karena merasa tertinggal jauh dari orang lain.
Islam sebenarnya mengajarkan kita untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, tapi dengan cara yang lebih tenang dan nggak kompetitif secara toksik. Alih-alih sibuk membandingkan skenario hidup kita dengan orang lain, kita diajak untuk percaya bahwa setiap orang punya timeline-nya masing-masing yang sudah diatur oleh Sang Pencipta. Ingat, beban yang kamu rasakan sekarang itu sudah ditakar pas sesuai kemampuanmu. Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Jadi, kalau sekarang kamu merasa lagi di fase yang berat atau merasa hidupmu nggak sekeren postingan influencer, itu bukan berarti kamu gagal. Itu tandanya kamu lagi ditempa buat naik level. Self-healing terbaik dalam Islam bukan cuma sekadar liburan atau beli kopi mahal, tapi dengan mengembalikan semua rasa cemas itu ke pemilik semesta. Saat hati mulai sesak karena ekspektasi duniawi yang nggak habis-habis, coba deh tarik napas dalam-dalam dan ucapkan doa yang sering dibaca Nabi Musa ini:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
Artinya: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.
Tips praktis buat kamu yang lagi merasa overwhelmed: Pertama, lakukan digital detox secara rutin biar nggak terus-terusan terpapar standar hidup orang lain yang belum tentu nyata. Kedua, mulai praktikkan journaling syukur tiap malam sebelum tidur, tulis minimal tiga hal kecil yang bikin kamu bahagia hari ini. Ketiga, jangan lupa buat curhat paling dalam lewat sujud di sepertiga malam. Percayalah, validasi dari Allah itu jauh lebih menenangkan daripada ribuan likes di media sosial.
Sebagai penutup, tetaplah jadi pemeran utama di hidupmu dengan cara yang paling autentik. Nggak perlu buru-buru, karena setiap bunga punya waktu mekar yang berbeda. Fokuslah pada progres kecilmu dan biarkan Allah yang mengatur hasil akhirnya. Ketika kamu sudah berusaha maksimal lalu berserah diri, di situlah keajaiban tawakkal bekerja. Stay positive, stay syari, dan tetap slay dengan cara yang diridhai-Nya.

