Diskursus mengenai puncak spiritualitas seorang hamba dalam Islam tidak akan pernah lepas dari konsep Ihsan dan ganjaran tertinggi berupa melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhirat kelak. Dalam hierarki agama, Ihsan menempati posisi paling luhur setelah Islam dan Iman. Secara ontologis, Ihsan bukan sekadar perbaikan amal lahiriah, melainkan sebuah kondisi batiniah yang menyadari kehadiran Ilahi secara absolut. Para mufassir dan ulama akidah telah melakukan kodifikasi terhadap dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah untuk menjelaskan bahwa puncak dari segala kenikmatan surgawi bukanlah sungai yang mengalir atau bidadari, melainkan sebuah tambahan yang disebut sebagai Ziyadah. Fenomena ini memerlukan pembedahan teks yang teliti agar kita memahami korelasi antara kualitas ibadah di dunia dengan kualitas perjumpaan dengan Sang Khalik di akhirat.

Dalam meninjau aspek tafsir, kita merujuk pada firman Allah dalam Surah Yunus yang menjadi fondasi utama mengenai janji tambahan kenikmatan bagi para pelaku kebaikan.

Dalam Artikel

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Secara semantik, kata Al-Husna dalam ayat ini ditafsirkan oleh mayoritas mufassir sebagai Al-Jannah atau Surga. Namun, yang menjadi titik tekan para ulama adalah kata Wa Ziyadah (dan tambahannya). Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Suhaib Ar-Rumi, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tambahan tersebut adalah melihat wajah Allah yang Maha Mulia. Ini menunjukkan bahwa derajat Ihsan (berbuat baik) di dunia berbanding lurus dengan anugerah melihat Dzat Allah di akhirat. Tidak ada debu hitam (qatar) atau kehinaan (dzillah) pada wajah mereka, yang menandakan bahwa cahaya tajalli Allah akan terpantul pada wajah para kekasih-Nya, memberikan kebahagiaan yang melampaui segala bentuk materi di surga.

Selanjutnya, untuk memahami bagaimana mencapai derajat tersebut, kita harus membedah teks hadits yang sangat fundamental dalam studi keislaman, yaitu Hadits Jibril yang mendefinisikan hakikat Ihsan.

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Terjemahan dan Syarah: Dia (Jibril) bertanya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Hadits ini merupakan poros dari ilmu Tasawuf dan Akhlak yang syar'i. Ulama muhadditsin membagi tingkatan ini menjadi dua maqam. Pertama, Maqam Al-Mushahadah, yaitu tingkat tertinggi di mana seorang hamba beribadah dengan hati yang dipenuhi makrifat seakan-akan ia menyaksikan keagungan Allah secara langsung. Kedua, Maqam Al-Muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba. Korelasi antara hadits ini dengan ayat sebelumnya sangat kuat: siapa yang berusaha melihat Allah dengan mata hatinya saat di dunia (melalui ibadah yang khusyuk), maka Allah akan memuliakannya dengan melihat Dzat-Nya dengan mata kepala di akhirat.

Kepastian mengenai rukyatullah (melihat Allah) juga ditegaskan dalam hadits mutawatir yang memberikan analogi tentang kejelasan penglihatan tersebut tanpa mengandung unsur penyerupaan (tasybih) terhadap Dzat Allah.

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا