Diskursus mengenai puncak pencapaian spiritual seorang mukmin tidak dapat dilepaskan dari konsep Ihsan dan harapan eskatologis untuk memandang Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhirat kelak. Dalam sistematika teologi Islam, Ihsan menempati posisi tertinggi setelah Islam dan Iman, yang menuntut kesadaran penuh akan kehadiran Ilahi dalam setiap gerak lahiriah maupun batiniah. Para ulama mufassir dan muhaddits telah mencurahkan perhatian besar untuk membedah bagaimana kesadaran akan pengawasan Allah di dunia ini akan berujung pada anugerah terbesar berupa kemampuan melihat Wajah-Nya yang Mulia di surga. Artikel ini akan membedah secara komprehensif teks-teks otoritatif yang menjadi fondasi utama dalam memahami relasi antara penghambaan yang sempurna dengan janji pertemuan dengan Sang Khalik.

Konsep Ihsan secara terminologis dan praktis dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits masyhur yang dikenal sebagai Hadits Jibril. Hadits ini menjadi pijakan dasar bagi para ulama untuk menjelaskan dua tingkatan kesadaran manusia dalam beribadah, yakni maqam musyahadah dan maqam muraqabah.

Dalam Artikel

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

Terjemahan dan Syarah: Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Secara analitis, kalimat seolah-olah engkau melihat-Nya menunjukkan maqam musyahadah, di mana hati seorang hamba dipenuhi dengan cahaya makrifat sehingga ia beribadah dengan penuh kerinduan dan ketundukan. Sedangkan kalimat sesungguhnya Dia melihatmu merujuk pada maqam muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya. Kedua tingkatan ini merupakan prasyarat bagi jiwa yang tenang untuk mencapai derajat kesempurnaan iman yang akan membuahkan balasan setimpal di hari kiamat.

Landasan teologis mengenai kemungkinan melihat Allah (Ru'yatullah) bagi kaum mukminin di akhirat berakar kuat pada nash Al-Quran yang bersifat eksplisit. Dalam Surah Al-Qiyamah, Allah menggambarkan kondisi wajah orang-orang beriman yang bercahaya karena mendapatkan anugerah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh akal manusia.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Terjemahan dan Tafsir: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata Nadhirah yang pertama menggunakan huruf Dhad berarti wajah yang bercahaya dan penuh kegembiraan akibat limpahan nikmat. Sedangkan kata Nadhirah yang kedua menggunakan huruf Zha yang diiringi dengan huruf jarr Ilaa secara linguistik berarti melihat dengan mata kepala (ru'yah al-bashar). Ini adalah bantahan telak terhadap aliran Mu'tazilah yang menafikan ru'yatullah. Ahlussunnah menegaskan bahwa melihat Allah adalah haq, terjadi tanpa kaifiyah (tata cara) yang menyerupai makhluk dan tanpa pembatasan ruang (tahayyuz) bagi Dzat Allah yang Maha Suci.

Penguatan mengenai hakikat melihat Allah juga ditemukan dalam tradisi hadits yang mutawatir secara makna. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan analogi untuk memudahkan pemahaman para sahabat mengenai kejelasan melihat Allah, bukan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, melainkan menyerupakan kejelasan proses melihat tersebut.

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا.