Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana mengenal Allah Swt atau makrifatullah menjadi titik awal pendakian spiritual yang paling fundamental. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap hakikat ketuhanan melalui kodifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat-sifat ini bukanlah penambahan zat, melainkan atribut kesempurnaan yang mutlak ada pada Zat Yang Maha Qadim. Mempelajari sifat-sifat ini bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan upaya menyucikan tanzih (transendensi) Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk (tasybih) dan peniadaan sifat (ta’thil). Dalam diskursus ini, kita akan membedah klasifikasi sifat tersebut yang terbagi menjadi Sifat Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah dengan landasan teks-teks otoritatif keagamaan.

فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى مَنْ كُلِّفَا # مَعْرِفَةُ اللهِ بِالْعِلْمِ الْوَفَا

Dalam Artikel

وَكُلُّ مَنْ قَلَّدَ فِي التَّوْحِيْدِ # إِيْمَانُهُ لَمْ يَخْلُ مِنْ تَرْدِيْدِ

فَاللهُ مَوْجُوْدٌ قَدِيْمٌ بَاقِي # مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ

وَقَائِمٌ لِذَاتِهِ وَوَاحِدُ # وَعَالِمٌ وَقَادِرٌ وَمَاجِدُ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

Bait-bait di atas merupakan nukilan dari kitab Jauharatut Tauhid karya Imam Ibrahim al-Laqqani yang menegaskan bahwa kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah mengenal Allah dengan pengetahuan yang sempurna. Sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Keberadaan Allah bersifat dzati, artinya Allah ada dengan sendirinya tanpa ada yang mewujudkan. Secara teologis, wujud Allah dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang merujuk pada zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna di luar zat. Para ulama menegaskan bahwa wujud Allah adalah wujud yang wajib (Wajib al-Wujud), berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mungkin (Mumkin al-Wujud). Dalil aqli menunjukkan bahwa keteraturan alam semesta ini mustahil terjadi tanpa adanya Pencipta yang Maha Ada, sementara dalil naqli tertuang dalam firman-Nya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku.

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى خَمْسُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتٍ سَلْبِيَّةً وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ عَدَمُ افْتِتَاحِ وُجُوْدِهِ وَمَعْنَى الْبَقَاءِ عَدَمُ اخْتِتَامِ وُجُوْدِهِ وَمَعْنَى الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ أَنَّهُ لَيْسَ جِرْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا فِي جِهَةٍ وَلَا لَهُ جِهَةٌ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: