Perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap dakwah secara drastis. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital (digital natives), kini menerima asupan spiritual mereka bukan lagi dari bangku madrasah atau halakah masjid, melainkan dari algoritma media sosial. Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang luar biasa bagi masa depan keberagamaan kita. Dakwah yang dahulu menuntut kehadiran fisik dan kesabaran dalam menyerap ilmu, kini bergeser menjadi konsumsi instan yang tersaji dalam durasi video puluhan detik di layar gawai.
Tantangan terbesar dalam pergeseran ini adalah pendangkalan makna agama akibat hilangnya tradisi sanad atau silsilah keilmuan yang otoritatif. Di ruang siber, siapa saja bisa menjadi ustadz dadakan hanya dengan modal retorika yang memikat dan kepiawaian menyunting video. Padahal, dalam tradisi Islam yang luhur, ilmu agama tidak boleh diambil secara serampangan tanpa kejelasan guru yang membimbingnya. Ulama besar Abdullah bin Mubarak pernah menegaskan pentingnya transmisi keilmuan ini dalam sebuah ungkapan yang sangat masyhur:
إِنَّ الْإِسْنَادَ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
Sanad itu adalah bagian dari agama. Sekiranya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan berkata apa saja yang dikehendakinya. Tanpa sanad, pemahaman agama akan rentan dipelintir demi kepentingan pribadi atau sekadar mengejar popularitas sesaat.
Selain masalah sanad, kita juga dihadapkan pada krisis akhlak di ruang digital yang kian mengkhawatirkan. Algoritma media sosial sering kali merangsang perdebatan sengit dan kontroversi demi mendulang interaksi (engagement). Akibatnya, dakwah digital kerap terjebak dalam pusaran saling menghujat, merasa paling benar, dan mengabaikan adab berdiskusi. Sebagai dai dan penikmat dakwah digital, kita harus kembali merenungkan panduan Al-Qur'an dalam menyampaikan kebenaran, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Ayat ini mengingatkan kita bahwa metode dakwah siber harus tetap mengedepankan kesantunan dan kedamaian, bukan kebencian yang memecah belah umat.
Tantangan berikutnya bagi Generasi Z adalah jebakan popularitas digital. Keberhasilan dakwah hari ini sering kali diukur dari jumlah pengikut (followers), tanda suka (likes), dan berapa kali konten tersebut dibagikan. Hal ini menciptakan ilusi bahwa popularitas setara dengan kebenaran. Para kreator konten keislaman muda rentan terjebak dalam riya dan sumah, di mana niat tulus menyebarkan kebaikan perlahan terkikis oleh hasrat mengejar viralitas. Padahal, hakikat dakwah adalah menyentuh hati nurani manusia, bukan sekadar memuaskan algoritma mesin.
Untuk menghadapi tantangan ini, para ulama dan tokoh agama senior tidak boleh tinggal diam dan bersikap apolitis terhadap teknologi. Ada kebutuhan mendesak untuk melakukan jembatanisasi keilmuan. Para ulama yang memiliki kedalaman ilmu klasik harus bersinergi dengan Generasi Z yang memiliki keahlian teknis dan kreativitas visual. Dengan kolaborasi ini, konten-konten keislaman yang mendalam dan otoritatif dapat dikemas secara menarik tanpa harus kehilangan substansi dan wibawa ilmiahnya.

