Fenomena perbedaan pendapat dalam ruang publik kita saat ini sering kali tidak lagi menjadi ajang pertukaran gagasan yang mencerahkan, melainkan berubah menjadi medan pertempuran ego. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan silaturahmi justru kerap dipenuhi dengan caci maki dan upaya saling menjatuhkan hanya karena berbeda sudut pandang. Sebagai umat yang dibekali dengan tuntunan wahyu, kita perlu merenungkan kembali apakah cara kita berdiskusi sudah mencerminkan kemuliaan akhlak atau justru sedang meruntuhkan bangunan ukhuwah yang telah lama kita bangun.
Perbedaan pendapat atau ikhtilaf sebenarnya adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia, bahkan merupakan rahmat jika dikelola dengan hati yang jernih. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan panduan eksplisit mengenai bagaimana seharusnya seorang mukmin bertutur kata, terutama saat berhadapan dengan sesuatu yang berpotensi memicu konflik. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Ayat ini mengingatkan kita bahwa pilihan kata dalam berpendapat bukan sekadar urusan retorika, melainkan benteng pertahanan agar setan tidak menyusupkan api permusuhan di tengah-tengah kita.
Sering kali, akar dari ketidakadaban dalam berbeda pendapat adalah munculnya rasa paling benar dan merendahkan orang lain. Padahal, kebenaran mutlak hanyalah milik Allah, sementara pemahaman manusia bersifat relatif dan terbatas. Akhlakul karimah menuntut kita untuk memiliki sifat tawadhu atau rendah hati. Seorang yang berilmu seharusnya semakin bijaksana dalam melihat spektrum pemikiran yang luas, bukan justru menjadi eksklusif dan gemar menghakimi mereka yang tidak sejalan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahkan memberikan jaminan kemuliaan bagi mereka yang mampu menahan diri dari perdebatan yang tidak berujung, meskipun ia berada di pihak yang benar secara argumen. Beliau bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga kedamaian dan hati saudara seiman jauh lebih utama daripada memenangkan sebuah perdebatan yang hanya akan menyisakan luka dan dendam di hati lawan bicara.
Kita perlu meneladani para ulama salaf dalam menyikapi perbedaan. Imam Syafi'i, misalnya, pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap mental seperti inilah yang hilang dari diskursus publik kita hari ini. Kita terlalu terburu-buru menghunus pedang kata-kata sebelum sempat membuka ruang dialog yang penuh empati dan rasa hormat.

