Kehidupan sosial kita hari ini sedang diuji oleh penyakit akut yang bernama intoleransi intelektual. Di era digital di mana setiap orang memiliki panggung untuk bersuara, perbedaan pendapat tidak lagi dipandang sebagai rahmat atau sarana memperkaya khazanah berpikir. Sebaliknya, ia kerap bertransformasi menjadi bahan bakar kebencian, caci maki, dan polarisasi yang membelah masyarakat. Ruang publik kita, khususnya media sosial, dipenuhi oleh debat kusir yang miskin substansi namun kaya akan caci maki. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma yang mengkhawatirkan, di mana kebenaran tidak lagi dicari melalui dialog yang sehat, melainkan dipaksakan melalui kekuatan suara dan penghakiman sepihak.

Sebagai umat Muslim, kita harus menyadari bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam kitab suci-Nya bahwa keragaman pandangan dan latar belakang adalah bagian dari rancangan agung penciptaan manusia. Dalam Surah Hud ayat 118, Allah berfirman:

Dalam Artikel

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.

Ayat ini memberikan landasan teologis yang kuat bahwa keseragaman mutlak dalam berpikir adalah hal yang mustahil. Oleh karena itu, memaksakan semua orang untuk memiliki satu pandangan yang sama adalah tindakan yang melawan kodrat kemanusiaan itu sendiri.

Sikap kritis dalam Islam tidak pernah dilarang, namun ia harus selalu dibersamai oleh akhlakul karimah. Para ulama salaf terdahulu telah memberikan teladan yang luar biasa dalam mengelola perbedaan. Mereka bisa berbeda pendapat dalam masalah fikih maupun ijtihad sosial, namun hati mereka tetap bertaut dalam jalinan ukhuwah yang kokoh. Imam Syafi'i, misalnya, pernah menyatakan bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap rendah hati inilah yang hari ini lenyap dari ruang diskusi kita, digantikan oleh kesombongan intelektual yang merasa paling benar sendiri.

Kehilangan adab dalam berbeda pendapat sering kali bersumber dari penyakit hati, seperti kesombongan dan keinginan untuk selalu unggul atas orang lain. Padahal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan keras sekaligus janji mulia bagi mereka yang mampu menahan diri dari perdebatan yang tidak produktif. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Artinya: Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.