Di era digital yang serba cepat ini, kita menyaksikan sebuah fenomena sosial yang cukup memprihatinkan: hilangnya kesantunan dalam mengekspresikan perbedaan pendapat. Ruang publik, khususnya media sosial, kerap berubah menjadi medan pertempuran kata-kata yang penuh dengan caci maki, saling menjatuhkan, dan hilangnya rasa hormat. Perbedaan pandangan politik, mazhab keagamaan, hingga pilihan gaya hidup sering kali memicu polarisasi yang tajam. Sebagai umat yang dianugerahi tuntunan wahyu, kita perlu bertanya pada diri sendiri, ke mana perginya warisan luhur akhlakul karimah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?
Perbedaan pendapat, atau ikhtilaf, sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah Islam. Para sahabat Nabi dan ulama salaf terdahulu telah mencontohkan bagaimana mengelola perbedaan dengan sangat anggun. Mereka memahami bahwa akal manusia memiliki keterbatasan dan sudut pandang yang bervariasi adalah sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Namun, yang membedakan generasi terdahulu dengan kita hari ini adalah komitmen mereka yang kokoh terhadap adab sebelum ilmu, dan persaudaraan di atas ego pribadi. Perbedaan bagi mereka adalah rahmat dan sarana memperkaya khazanah berpikir, bukan alasan untuk memutus tali silaturahmi.
Al-Quran secara tegas memerintahkan kita untuk selalu memilih tutur kata terbaik ketika berinteraksi dengan sesama, terlebih saat menghadapi perbedaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 53:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (baik). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kegagalan dalam menjaga lisan dan jemari saat berbeda pendapat adalah celah terbesar yang akan dimanfaatkan oleh setan untuk merusak persatuan umat.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa debat kusir sering kali dianggap sebagai lambang kecerdasan, sementara sikap mengalah demi kedamaian dipandang sebagai kelemahan. Kita terjebak dalam sindrom harus selalu menang dalam setiap argumen, bahkan jika harus mengorbankan kehormatan saudara seiman. Padahal, kemenangan sejati dalam pandangan Islam bukan terletak pada runtuhnya argumen lawan, melainkan pada kemampuan kita mengendalikan hawa nafsu dan menjaga hati agar tidak terjangkit penyakit sombong dan meremehkan orang lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan jaminan yang luar biasa bagi mereka yang mampu menahan diri dari perdebatan yang tidak berujung, meskipun posisi mereka berada di pihak yang benar. Beliau bersabda dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Artinya: Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar. Hadis ini mengajarkan kita sebuah seni berkomunikasi yang sangat tinggi, yaitu mengutamakan kedamaian dan keharmonisan sosial di atas kepuasan ego sektoral yang fana.

