Kita tengah hidup di era di mana semua orang bisa berbicara, namun sangat sedikit yang mau mendengarkan. Media sosial telah mengubah ruang publik kita menjadi arena debat tanpa akhir yang sering kali bising dan melelahkan. Sayangnya, perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi rahmat dan pemantik kedewasaan berpikir, kini kerap berujung pada caci maki, pembunuhan karakter, hingga polarisasi sosial yang tajam. Sebagai umat Muslim, kita patut merenung secara mendalam, ke mana perginya nilai-nilai akhlakul karimah yang dahulu dibawa oleh Rasulullah sebagai penyempurna peradaban manusia?
Islam pada hakikatnya tidak pernah mengharamkan perbedaan pendapat. Keragaman sudut pandang adalah sunnatullah yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan dunia. Persoalan utama hari ini bukanlah terletak pada eksistensi perbedaan itu sendiri, melainkan pada bagaimana cara kita meresponsnya. Ketika perbedaan disikapi dengan kesombongan intelektual dan nafsu untuk saling menjatuhkan, maka ia akan berubah menjadi sumber perpecahan yang merusak

