Ilmu akidah merupakan pilar utama dalam struktur keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khalik (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, pengenalan terhadap Allah dilakukan dengan memahami sifat-sifat yang wajib bagi-Nya. Sifat wajib ini bukanlah tambahan atas Dzat, melainkan atribut yang secara nalar dan wahyu harus ada pada Dzat Yang Maha Sempurna. Tanpa sifat-sifat ini, ketuhanan menjadi mustahil. Para ulama membagi sifat-sifat ini ke dalam beberapa kategori, yakni Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah, yang keseluruhannya berjumlah dua puluh sifat yang menjadi representasi dari kesempurnaan mutlak Allah Swt.
الْأَوَّلُ مِنْ صِفَاتِ اللهِ الْوَاجِبَةِ هِيَ الْوُجُودُ وَهِيَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ بِمَعْنَى أَنَّ الْعَقْلَ لَا يَتَصَوَّرُ الذَّاتَ الْعَلِيَّةَ بِدُونِهَا وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ إِبْرَاهِيمَ أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَعْنَى الْوُجُودِ هُنَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا مِنْ عِلَّةٍ وَلَا يُحَدُّ بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ بَلْ هُوَ خَالِقُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَكُلُّ مَا سِوَاهُ فَهُوَ مَوْجُودٌ بِإِيجَادِهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Al-Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai sifat nafsiyah, yakni sifat yang menunjukkan keberadaan Dzat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Secara teologis, akal sehat tidak akan mungkin membayangkan adanya alam semesta yang teratur ini tanpa adanya Sang Pencipta yang Wajib al-Wujud (Eksistensi-Nya bersifat niscaya). Ayat di atas menegaskan bahwa keraguan terhadap eksistensi Allah adalah suatu kemustahilan rasional karena Dialah Pencipta langit dan bumi. Keberadaan Allah tidak didahului oleh tiada dan tidak dipengaruhi oleh ruang maupun waktu, sebab ruang dan waktu adalah makhluk (ciptaan) yang baru, sedangkan Sang Pencipta haruslah berbeda dari ciptaan-Nya.
ثُمَّ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَهُمَا مِنْ صِفَاتِ السَّلْبِيَّةِ الَّتِي تَسْلِبُ عَنِ اللهِ مَا لَا يَلِيقُ بِهِ فَالْقِدَمُ يَعْنِي عَدَمُ الِافْتِتَاحِ لِوُجُودِهِ وَالْبَقَاءُ يَعْنِي عَدَمُ الِاخْتِتَامِ لِوُجُودِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ فَالْأَوَّلُ هُوَ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالْآخِرُ هُوَ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ شَيْءٌ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Selanjutnya, Allah wajib bersifat Al-Qidam (Dahulu tanpa awal) dan Al-Baqa (Kekal tanpa akhir). Keduanya termasuk dalam kelompok sifat salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Al-Qidam meniadakan sifat baru (huduts), sehingga Allah tidak bermula. Jika Allah bermula, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan mata rantai penciptaan yang tak berujung (tasalsul) yang mustahil secara logika. Al-Baqa meniadakan sifat fana (rusak/punah). Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hadid ayat 3, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir. Makna Al-Awwal di sini adalah keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu tanpa ada permulaan bagi-Nya, dan Al-Akhir berarti keberadaan-Nya tetap ada setelah segala sesuatu musnah tanpa ada penghujung bagi-Nya.
وَمِنْ صِفَاتِهِ الْعَظِيمَةِ الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ فَلَا يُشْبِهُ اللهُ تَعَالَى شَيْئًا مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ وَهُوَ الْغَنِيُّ عَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى مَحَلٍّ وَلَا إِلَى مُخَصِّصٍ بَلِ الْخَلْقُ كُلُّهُمْ فُقَرَاءُ إِلَيْهِ كَمَا قَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

