Dalam khazanah pemikiran Islam, mengenal Allah atau Ma rifatullah merupakan kewajiban fundamental bagi setiap mukallaf. Hal ini bukan sekadar pengetahuan kognitif, melainkan fondasi bagi seluruh bangunan syariat dan akhlak. Ulama Ahlus Sunnah wal Jama ah, khususnya dalam tradisi Asy ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk memahami hakikat ketuhanan melalui klasifikasi sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat-sifat wajib ini dibagi menjadi empat kategori utama yaitu Nafsiyah, Salbiyah, Ma ani, dan Ma nawiyah. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kemurnian tauhid dari noda tasybih atau penyerupaan dan ta thil atau peniadaan sifat. Tanpa pemahaman yang kokoh terhadap sifat-sifat ini, seseorang rentan terjatuh ke dalam pemahaman antromorfisme yang menjasmanikan Tuhan atau ateisme terselubung yang meragukan eksistensi Sang Pencipta.
TEKS ARAB BLOK 1
اَللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ. اَلْوُجُوْدُ هُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ يَدُلُّ عَلَى ذَاتِ اللهِ تَعَالَى بِلَا مَعْنًى زَائِدٍ عَلَيْهَا، وَهُوَ الْوَاجِبُ لِذَاتِهِ الَّذِيْ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ اَزَلًا وَاَبَدًا.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam Blok 1:
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain Dia seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. As-Sajdah: 4). Secara ontologis, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud, yang berarti Ada. Keberadaan Allah adalah Wujud Hakiki yang tidak didahului oleh tiada dan tidak akan berakhir dengan ketiadaan. Dalam kajian teologi, sifat Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan jati diri Dzat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Para ulama menjelaskan bahwa Allah adalah Wajib al-Wujud, yakni Dzat yang keberadaan-Nya bersifat niscaya secara rasional. Jika alam semesta ini ada, maka secara logika pasti ada Pencipta yang keberadaannya tidak bergantung pada sebab lain. Eksistensi Allah tidak membutuhkan ruang atau waktu, karena Dialah yang menciptakan dimensi-dimensi tersebut.
TEKS AR

