Dalam diskursus teologi Islam, mengenal Allah Swt atau Makrifatullah merupakan kewajiban fundamental yang mendahului seluruh rangkaian syariat. Para ulama mutakallimin dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap hakikat ketuhanan melalui klasifikasi sifat-sifat wajib. Sifat-sifat ini bukanlah tambahan atas zat-Nya dalam makna dualitas, melainkan representasi dari kesempurnaan mutlak yang melekat pada Zat Yang Maha Qadim. Pemahaman yang mendalam mengenai sifat-sifat ini berfungsi sebagai benteng dari pemahaman tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat Allah). Melalui pendekatan tafsir isyari dan analisis lughawi, kita akan membedah bagaimana sifat-sifat ini menjadi pondasi bagi eksistensi alam semesta.
الْأَصْلُ الْأَوَّلُ فِي مَعْرِفَةِ وُجُودِ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ النَّفْسِيَّةِ هُوَ الْوُجُودُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ عِلَّةٌ وَلَا ابْتِدَاءٌ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ. وَهَذَا الْوُجُودُ يُسَمَّى وُجُودًا ذَاتِيًّا لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ، لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ، بَلْ كُلُّ مَا سِوَاهُ مُفْتَقِرٌ إِلَيْهِ فِي صُدُورِهِ وَبَقَائِهِ. فَوُجُودُهُ تَعَالَى هُوَ عَيْنُ ذَاتِهِ عِنْدَ بَعْضِ الْمُحَقِّقِينَ، وَهُوَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الْوَحِيدَةُ الَّتِي لَا يُمْكِنُ تَعَقُّلُ الذَّاتِ بِدُونِهَا، وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ قَائِمٌ عَلَى أَنَّ حُدُوثَ الْعَالَمِ يَسْتَلْزِمُ مُحْدِثًا وَاجِبَ الْوُجُودِ قَدِيمًا بَاقِيًا.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Prinsip pertama dalam mengenal keberadaan Allah Ta'ala dan sifat Nafsiyah-Nya adalah al-Wujud (Ada), yang tidak memiliki sebab maupun permulaan. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Memelihara atas segala sesuatu. Keberadaan ini disebut sebagai wujud dzati karena Dia Subhanahu wa Ta'ala adalah Wajib al-Wujud (Wajib Ada) karena Zat-Nya sendiri, tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya, melainkan segala sesuatu selain-Nya butuh kepada-Nya dalam penciptaan dan keberlangsungannya. Maka, wujud Allah Ta'ala adalah esensi Zat-Nya menurut sebagian ulama muhaqqiqin. Wujud merupakan satu-satunya sifat Nafsiyah yang mana akal tidak dapat menggambarkan adanya Zat tanpa sifat ini. Dalil akal menegaskan bahwa keterbaruan alam semesta (huduts al-alam) niscaya membutuhkan Sang Pencipta yang Wajib Ada, Terdahulu (Qadim), dan Kekal (Baqa).
ثُمَّ نَنْتَقِلُ إِلَى الصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ الَّتِي تَنْفِي عَنِ اللَّهِ مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. قَالَ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَمَعْنَى الْقِدَمِ هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ هُوَ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ. أَمَّا الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ فَهِيَ تَنْزِيهُهُ تَعَالَى عَنِ الْجِرْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالْمَكَانِ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ لَا يَحُلُّ فِي شَيْءٍ وَلَا يَحُلُّ فِيهِ شَيْءٌ، وَلَا يُشْبِهُ خَلْقَهُ فِي ذَاتِهِ وَلَا فِي صِفَاتِهِ وَلَا فِي أَفْعَالِهِ، بَلْ هُوَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الَّذِي تَنَزَّهَ عَنِ الشَّرِيكِ وَالنَّظِيرِ وَالْمُعِينِ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Kemudian kita berpindah pada Sifat Salbiyah yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah, yaitu Qidam (Terdahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Allah berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Makna Qidam adalah meniadakan ketiadaan yang mendahului keberadaan, sedangkan Baqa adalah meniadakan ketiadaan yang menyusul keberadaan. Adapun Mukhalafatu lil Hawaditsi adalah mensucikan Allah Ta'ala dari sifat kebendaan (jirmiyah), sifat baru (aradhiyah), arah, dan tempat. Maka Dia Subhanahu tidak menempati sesuatu dan tidak pula ditempati sesuatu, tidak menyerupai makhluk-Nya baik dalam Zat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya. Dialah Yang Maha Tunggal dan Maha Esa yang suci dari sekutu, tandingan, maupun pembantu.
وَأَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى، وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَقَالَ أَيْضًا: فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ يُتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ الْمُمْكِنِ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ، وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ كَاشِفَةٌ لِلْمَعْلُومَاتِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ، وَالْحَيَاةُ صِفَةٌ تُصَحِّحُ لِمَنْ قَامَتْ بِهِ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَالْإِدْرَاكِ، وَالْكَلَامُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، مُنَزَّهَةٌ عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالْإِعْرَابِ وَالْبِنَاءِ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Adapun Sifat Ma'ani adalah sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada Zat Allah Ta'ala, yaitu Qudrat (Kuasa), Iradat (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya Allah atas segala sesuatu Maha Kuasa, dan juga berfirman: Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki. Qudrat adalah sifat yang dengannya memungkinkan penciptaan dan peniadaan hal yang mungkin (mumkin) sesuai dengan Iradat. Iradat adalah sifat yang menentukan hal yang mungkin dengan sebagian sifat yang boleh baginya. Ilmu adalah sifat yang menyingkap segala sesuatu yang diketahui sesuai dengan hakikatnya secara pasti tanpa kemungkinan sebaliknya. Hayat adalah sifat yang mengesahkan pemiliknya untuk bersifat dengan ilmu dan persepsi. Sedangkan Kalam adalah sifat azali yang berdiri pada Zat-Nya, bukan berupa huruf maupun suara, suci dari terdahulu dan terkemudian, serta suci dari kaidah sintaksis (i'rab) maupun struktur kata (bina).
يَتَفَرَّعُ عَنْ صِفَاتِ الْمَعَانِي صِفَاتٌ تُسَمَّى بِالصِّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ، وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا، وَمُرِيدًا، وَعَالِمًا، وَحَيًّا، وَسَمِيعًا، وَبَصِيرًا، وَمُتَكَلِّمًا. وَهَذِهِ الصِّفَاتُ هِيَ مُلَازِمَةٌ لِصِفَاتِ الْمَعَانِي، فَلَا يُعْقَلُ أَنْ يَكُونَ الذَّاتُ مَوْصُوفًا بِالْعِلْمِ وَلَا يَكُونُ عَالِمًا. وَإِنَّ ثَمَرَةَ مَعْرِفَةِ هَذِهِ الصِّفَاتِ هِيَ تَحْقِيقُ الْعُبُودِيَّةِ الْخَالِصَةِ، فَإِذَا عَلِمَ الْعَبْدُ أَنَّ رَبَّهُ بَصِيرٌ بِهِ، عَلِيمٌ بِخَفَايَا صَدْرِهِ، قَادِرٌ عَلَى نَفْعِهِ وَضُرِّهِ، اسْتَقَامَ عَلَى أَمْرِهِ وَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ حَقَّ التَّوَكُّلِ. فَالْمَعْرِفَةُ النَّظَرِيَّةُ لَا بُدَّ أَنْ تَتَحَوَّلَ إِلَى حَالٍ قَلْبِيٍّ يُورِثُ الْخَشْيَةَ وَالرَّجَاءَ وَالْمَحَبَّةَ.
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Dari Sifat Ma'ani terpancarlah sifat-sifat yang disebut Sifat Ma'nawiyah, yaitu keberadaan-Nya Ta'ala sebagai Yang Maha Kuasa (Kaunuhu Qadiran), Maha Berkehendak (Muridan), Maha Mengetahui (Aliman), Maha Hidup (Hayyan), Maha Mendengar (Sami'an), Maha Melihat (Bashiran), dan Maha Berfirman (Mutakalliman). Sifat-sifat ini merupakan keniscayaan dari Sifat Ma'ani, karena tidak masuk akal jika Zat disifati dengan Ilmu namun tidak disebut Alim (Maha Mengetahui). Buah dari mengenal sifat-sifat ini adalah terwujudnya penghambaan yang murni. Jika seorang hamba mengetahui bahwa Tuhannya Maha Melihat keadaannya, Maha Mengetahui rahasia hatinya, dan Maha Kuasa untuk memberi manfaat atau mudarat baginya, maka ia akan istiqamah dalam perintah-Nya dan bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal. Maka makrifat secara teoritis harus bertransformasi menjadi keadaan spiritual (hal) yang mewariskan rasa takut (khasyyah), harap (raja'), dan cinta (mahabbah).

