Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khaliq (Ma’rifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dalam madrasah Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk memahami hakikat ketuhanan melalui klasifikasi Sifat Duapuluh. Sifat-sifat ini bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konklusi logis dan skriptural yang membedakan antara Sang Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah berarti mengukuhkan tanzih (penyucian) Allah dari segala kekurangan dan penyerupaan dengan alam semesta.

Sifat pertama yang menjadi fondasi adalah Al-Wujud. Secara ontologis, keberadaan Allah adalah mutlak dan tidak didahului oleh tiada. Keberadaan alam semesta yang teratur ini merupakan dalil aqli yang paling nyata atas adanya Sang Pengatur yang Maha Bijaksana. Tanpa adanya Wujud Tuhan, maka mustahil ada eksistensi makhluk.

Dalam Artikel

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ . يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ . ذَٰلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. As-Sajdah: 4-6).

Syarah: Ayat ini menegaskan sifat Wujud Allah melalui karya ciptaan-Nya. Frasa Yudabbirul Amra (Dia mengatur urusan) menunjukkan bahwa keberadaan Allah bukan sekadar ada secara statis, melainkan Wujud yang aktif-dinamis dalam mengelola seluruh partikel alam semesta. Dalam logika kalam, ini disebut sebagai Dalil al-Inayah, yakni keteraturan alam yang membuktikan adanya Pencipta yang Maha Ada.

Setelah menetapkan Wujud, maka secara akal sehat Tuhan haruslah bersifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Jika Tuhan memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan tasalsul (mata rantai tanpa ujung) yang mustahil secara logika. Allah adalah Al-Awwal dan Al-Akhir yang melampaui dimensi waktu yang diciptakan-Nya sendiri.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ . فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3). Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27).

Syarah: At-Tafsir al-Maudhu’i terhadap ayat-ayat ini menjelaskan bahwa sifat Qidam Allah terkandung dalam nama Al-Awwal, yang berarti tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Sedangkan sifat Baqa terkandung dalam nama Al-Akhir dan firman-Nya Wayabqa Wajhu Rabbika. Keabadian Allah bersifat Dzatiyah (hakiki pada Dzat-Nya), sedangkan keabadian surga atau neraka bersifat Aradhiyah (karena dikehendaki Allah), sehingga tetap ada perbedaan mendasar antara Khaliq dan makhluq dalam hal keabadian.