Mengenal Allah Swt (Ma'rifatullah) merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf sebelum ia menjalankan syariat-syariat lainnya. Tanpa landasan teologis yang kokoh, bangunan ibadah seseorang akan rapuh diterjang badai syubhat. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk memahami sifat-sifat Allah melalui klasifikasi Sifat Dua Puluh. Kajian ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses dialektika intelektual untuk membuktikan kesempurnaan Sang Pencipta melalui dalil-dalil yang qath’i (pasti). Memahami sifat wajib bagi Allah berarti mengakui kemutlakan eksistensi-Nya dan menafikan segala bentuk kekurangan yang mustahil bagi Dzat Yang Maha Suci.

Penjelasan: Fondasi utama dalam mengenal Allah adalah meyakini keberadaan-Nya (Wujud). Keberadaan Allah bersifat dzati, artinya Dia ada tanpa ada yang mengadakan. Secara rasional, alam semesta yang bersifat baru (hadits) ini mustahil ada tanpa adanya Pencipta yang bersifat qadim (dahulu). Para ulama menegaskan bahwa sifat Wujud adalah sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri tanpa tambahan makna lain di luar keberadaan-Nya. Allah adalah Al-Wajib al-Wujud, yang keberadaan-Nya menjadi syarat bagi adanya segala sesuatu di alam semesta ini.

Dalam Artikel

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan & Syarah: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Syarah: Imam al-Ghazali dalam kitabnya menjelaskan bahwa Al-Awwal berarti eksistensi-Nya mendahului segala sesuatu tanpa ada permulaan (azali). Sifat Qidam ini memastikan bahwa Allah tidak didahului oleh ketiadaan. Sementara Al-Akhir menunjukkan sifat Baqa' (Kekal), di mana Allah tidak akan mengalami kepunahan. Ayat ini merupakan argumen teologis yang mematahkan logika tasalsul (rantai penciptaan tanpa ujung) dan dawar (lingkaran penciptaan yang saling membutuhkan), menegaskan bahwa Allah adalah titik awal dan akhir dari segala realitas.

Penjelasan: Keesaan Allah atau Wahdaniyyah mencakup tiga dimensi utama yang harus dipahami secara mendalam: Esa dalam Dzat, Esa dalam Sifat, dan Esa dalam Af’al (perbuatan). Wahdaniyyah dalam Dzat berarti Allah tidak tersusun dari bagian-bagian (kam muttasil) dan tidak ada dzat lain yang menyerupai-Nya (kam munfasil). Wahdaniyyah dalam Sifat berarti tidak ada dua sifat yang sama pada Dzat-Nya dan tidak ada makhluk yang memiliki sifat yang setara dengan Sifat-Nya. Wahdaniyyah dalam Af'al menegaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pelaku hakiki di alam semesta ini, sementara makhluk hanya memiliki usaha (kasab).

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Terjemahan & Syarah: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan (QS. Al-Anbiya: 22). Syarah: Ayat ini mengandung argumentasi logis yang dikenal sebagai Dalil Tamanyu' (dalil saling menghalangi). Jika terdapat dua tuhan yang memiliki kehendak berbeda, maka keteraturan alam semesta akan hancur. Jika keduanya setuju, maka salah satunya menjadi tidak berfungsi. Oleh karena itu, secara akal dan wahyu, ketunggalan otoritas ketuhanan adalah sebuah keniscayaan absolut demi terjaganya kosmos.

Penjelasan: Sifat Qudrah (Kuasa) dan Iradah (Kehendak) adalah sifat Ma'ani yang berkaitan erat dengan proses penciptaan dan pengaturan alam. Qudrah berfungsi sebagai eksekutor atas apa yang telah ditentukan oleh Iradah. Segala sesuatu yang mungkin terjadi (mumkinat) berada di bawah genggaman kekuasaan-Nya yang mutlak. Tidak ada satu atom pun yang bergerak kecuali atas kehendak-Nya (Masyi'atullah) dan kekuatan-Nya. Pemahaman ini melahirkan sikap tawakal yang benar, di mana seorang hamba menyadari bahwa segala sebab-akibat di dunia hanyalah perantara, sedangkan penentu akhirnya adalah kekuasaan Allah.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ