Ilmu akidah merupakan pilar utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Khalik (Ma'rifatullah) menjadi titik awal dari segala bentuk ibadah. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap hakikat ketuhanan melalui penyusunan Sifat Duapuluh. Sifat-sifat ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah metodologi rasional dan tekstual untuk membedakan antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Secara epistemologis, mengenal sifat wajib bagi Allah berfungsi sebagai perisai dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat). Kajian ini akan membedah empat kategori utama sifat wajib, yakni Sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah, dengan merujuk pada otoritas Al-Qur'an dan argumentasi logika yang mapan.

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ . اللّٰهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ . وَقَالَ أَيْضًا: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَهَذِهِ الْآيَاتُ تُثْبِتُ وَحْدَانِيَّةَ اللّٰهِ تَعَالَى وَتَنْفِي عَنْهُ الْمُمَاثَلَةَ لِلْحَوَادِثِ بِأَيِّ وَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Dan Dia juga berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Ayat-ayat ini menetapkan sifat Wahdaniyyah (Keesaan) dan Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Dalam perspektif tafsir, kalimat Laisa Kamitslihi Syaiun merupakan fondasi tanzih, yakni mensucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan keterbatasan materi. Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena tempat dan arah adalah makhluk, sedangkan Sang Pencipta tidak membutuhkan makhluk-Nya. Eksistensi Allah adalah Wajib al-Wujud, yang berarti keberadaan-Nya bersifat mutlak dan tidak didahului oleh ketiadaan.

وَأَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللّٰهِ تَعَالَى، مِنْهَا الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . وَقَالَ سُبْحَانَهُ: فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ . وَقَالَ أَيْضًا: وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا . فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ تُؤَثِّرُ فِي الْمُمْكِنَاتِ إِيجَادًا وَإِعْدَامًا عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Adapun Sifat Ma'ani adalah sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala, di antaranya adalah Qudrat (Kuasa), Iradat (Kehendak), dan Ilmu (Pengetahuan). Allah Swt berfirman: Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 20). Dan Dia Yang Maha Suci berfirman: Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki (QS. Al-Buruj: 16). Serta firman-Nya: Dan Dia meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu (QS. Al-Jinn: 28). Secara teologis, Qudrat adalah sifat yang memberikan pengaruh pada segala sesuatu yang mungkin terjadi (mumkinat), baik dalam mewujudkannya maupun meniadakannya. Sementara Iradat adalah sifat yang menentukan (takhshish) segala sesuatu sesuai dengan hikmah-Nya. Keterkaitan antara Qudrat, Iradat, dan Ilmu menunjukkan bahwa alam semesta ini diciptakan dengan perencanaan yang sempurna, bukan karena kebetulan atau paksaan, melainkan atas kehendak bebas Sang Khaliq yang Maha Mengetahui segala detail ciptaan-Nya.

وَمِنَ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ أَيْضًا صِفَةُ الْحَيَاةِ وَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَالْكَلَامِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: اللّٰهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ . وَقَالَ تَعَالَى: وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوسَى تَكْلِيمًا . فَكَلَامُ اللّٰهِ تَعَالَى صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ، لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَلَا صَوْتٍ، مُنَزَّهَةٌ عَنِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ وَالْإِعْرَابِ وَالْبِنَاءِ، لِأَنَّ هَذِهِ مِنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Di antara sifat wajib lainnya adalah Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Allah Swt berfirman: Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) (QS. Al-Baqarah: 255). Dan Allah berfirman: Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung (QS. An-Nisa: 164). Sifat Kalam Allah adalah sifat azali yang berdiri pada Dzat-Nya, yang tidak terdiri dari huruf maupun suara. Ia suci dari sifat mendahului atau menyusul, serta suci dari tata bahasa (i'rab) dan struktur bangunan kalimat (bina'), karena hal-hal tersebut merupakan ciri khas bahasa makhluk. Memahami sifat Kalam secara mendalam mengharuskan kita membedakan antara Kalam Nafsi (sifat azali Allah) dengan mushaf yang kita baca yang merupakan manifestasi dari firman-Nya dalam bentuk huruf untuk memudahkan manusia memahaminya. Sifat Hayat adalah syarat bagi tegaknya sifat-sifat lainnya, karena mustahil bagi yang tidak hidup untuk memiliki kuasa, kehendak, dan pengetahuan.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . يَدُلُّ هَذَا النَّصُّ عَلَى صِفَةِ الْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ، فَالْأَوَّلُ هُوَ الَّذِي لَيْسَ لِوُجُودِهِ ابْتِدَاءٌ، وَالْآخِرُ هُوَ الَّذِي لَيْسَ لِوُجُودِهِ انْتِهَاءٌ. وَقَالَ الْإِمَامُ الطَّحَاوِيُّ فِي عَقِيدَتِهِ: قَدِيمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ، لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ، وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Teks ini menunjukkan sifat Qidam (Dahulu) dan Baqa (Kekal). Al-Awwal berarti Zat yang keberadaan-Nya tidak diawali oleh ketiadaan, sedangkan Al-Akhir berarti Zat yang keberadaan-Nya tidak diakhiri oleh kepunahan. Imam At-Thahawi dalam risalah akidahnya menegaskan bahwa Allah itu Qadim tanpa permulaan, kekal tanpa akhir, tidak akan binasa dan tidak akan hancur, serta tidak terjadi sesuatu kecuali atas kehendak-Nya. Sifat Qidam dan Baqa memberikan kepastian teologis bahwa Allah adalah satu-satunya sandaran yang absolut. Berbeda dengan makhluk yang bersifat huduts (baru) dan fana (rusak), Allah Swt melampaui dimensi waktu. Waktu adalah ciptaan Allah, maka Allah tidak terikat oleh hukum waktu yang Ia ciptakan sendiri. Analisis ini membawa kita pada kesimpulan bahwa kemandirian Allah (Qiyamuhu Binafsihi) adalah konsekuensi logis dari ketuhanan yang sempurna.