Ma’rifatullah atau mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang mukmin. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Khaliq, ibadah seseorang berisiko terjebak dalam ruang hampa tanpa arah. Para ulama kalam, khususnya dari madrasah Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah melalui metodologi yang menggabungkan dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (logika akal sehat). Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian akidah dari paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta’thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Kajian ini akan membedah secara komprehensif dua puluh sifat wajib yang secara epistemologis dibagi menjadi empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

اِعْلَمْ أَنَّ مَعْرِفَةَ اللهِ تَعَالَى هِيَ أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ عَلَى الْمُكَلَّفِ، وَهِيَ الْعِلْمُ بِصِفَاتِهِ الْوَاجِبَةِ وَالْمُسْتَحِيْلَةِ وَالْجَائِزَةِ. فَأَوَّلُ مَا يَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى هِيَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ وَهِيَ الْوُجُودُ، وَمَعْنَاهَا أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا مَحَالَةَ، وَوُجُودُهُ ذَاتِيٌّ لَيْسَ لِعِلَّةٍ خَارِجِيَّةٍ، وَهُوَ مَوْجُودٌ قَبْلَ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، فَلَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ، لِأَنَّ كُلَّ مَوْجُودٍ سِوَاهُ فَهُوَ حَادِثٌ مُفْتَقِرٌ إِلَى صَانِعٍ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Ketahuilah bahwa mengenal Allah Ta’ala adalah kewajiban pertama bagi setiap mukallaf, yaitu pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya yang wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Sifat Nafsiyah, yaitu Al-Wujud (Ada). Maknanya adalah bahwa Allah Ta’ala pasti ada, dan keberadaan-Nya adalah esensi dari zat-Nya sendiri (dzati), bukan karena sebab atau faktor eksternal. Dia ada sebelum terciptanya ruang dan waktu, sehingga Dia tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya. Secara logika, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan berubah-ubah merupakan bukti tak terbantahkan akan adanya Pencipta yang bersifat Wajibul Wujud (Wajib Adanya). Jika Allah tidak ada, maka mustahil alam semesta ini muncul dari ketiadaan, karena ketiadaan tidak dapat menciptakan keberadaan.

[TEKS ARAB BLOK 2]

ثُمَّ يَلِي ذَلِكَ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسُ صِفَاتٍ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلُبُ عَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ. فَالْقِدَمُ نَفْيُ الْعَدَمِ السَّابِقِ، وَالْبَقَاءُ نَفْيُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ تَعْنِي أَنَّهُ لَيْسَ جِرْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا يُشْبِهُ خَلْقَهُ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ، وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ يَعْنِي عَدَمَ افْتِقَارِهِ إِلَى مَحَلٍّ أَوْ مُخَصِّصٍ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

Kemudian setelah itu adalah Sifat-sifat Salbiyah yang berjumlah lima: Al-Qidam (Dahulu tanpa permulaan