Dalam diskursus teologi Islam, ma'rifatullah atau mengenal Allah merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukalaf. Fondasi utama dalam mengenal Khalik adalah dengan memahami sifat-sifat yang wajib ada pada Dzat-Nya yang Maha Suci. Para ulama mutakallimin, khususnya dalam madrasah Ahlussunnah wal Jama'ah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah ke dalam klasifikasi yang presisi guna menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Pemahaman ini bukan sekadar dialektika akal, melainkan manifestasi dari penghambaan yang didasarkan pada argumen yang kokoh (al-hujjah al-qathi'ah). Kita akan membedah empat kategori utama sifat wajib, yakni Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah dengan tinjauan teks otoritatif.

Sifat Nafsiyah merupakan sifat yang menunjukkan keberadaan Dzat Allah itu sendiri tanpa ada tambahan makna lain. Sifat ini adalah Wujud, yang menjadi dasar bagi seluruh sifat lainnya. Tanpa menetapkan sifat Wujud, maka mustahil bagi akal untuk menetapkan sifat-sifat kesempurnaan lainnya bagi Allah Swt.

Dalam Artikel

فَأَمَّا الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ فَهِيَ الْوُجُودُ، وَمَعْنَى كَوْنِهِ صِفَةً نَفْسِيَّةً أَنَّهُ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهِ، وَالْوُجُودُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى ذَاتِيٌّ لَيْسَ بِمُكْتَسَبٍ وَلَا مَسْبُوقٍ بِعَدَمٍ، وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ الْعَالَمَ حَادِثٌ وَكُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُوجِدٍ قَدِيمٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Adapun Sifat Nafsiyah adalah Al-Wujud (Ada). Makna dari sifat nafsiyah adalah bahwa akal tidak dapat membayangkan adanya Dzat tanpa adanya sifat tersebut. Keberadaan (Wujud) bagi Allah Swt adalah bersifat dzati, yakni ada dengan sendirinya, bukan didapatkan dari pihak lain, dan tidak didahului oleh ketiadaan (adam). Secara epistemologis, para ulama menggunakan dalil huduts al-alam (kebaharuan alam) untuk membuktikan wujud Allah. Karena alam semesta ini bersifat berubah-ubah (mutaghayyir), maka secara logika ia membutuhkan Pencipta (Muujid) yang bersifat Qadim (terdahulu tanpa awal) dan Wajib al-Wujud (wajib adanya secara esensial).

Setelah menetapkan Wujud, maka wajib bagi setiap mukmin memahami Sifat Salbiyah. Kategori ini berfungsi untuk meniadakan atau menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan kemiripan dengan makhluk. Sifat ini meliputi Qidam, Baqa, Mukhalafah lil Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, dan Wahdaniyah.

وَأَمَّا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ فَهِيَ الَّتِي مَدْلُولُهَا السَّلْبُ وَالنَّفْيُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِهِ، كَالْقِدَمِ الَّذِي يَنْفِي الْعَدَمَ السَّابِقَ، وَالْبَقَاءِ الَّذِي يَنْفِي الْعَدَمَ اللَّاحِقَ، وَالْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ الَّتِي تَنْفِي الْمُمَاثَلَةَ لِلْمَخْلُوقَاتِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، فَلَا جَوْهَرَ وَلَا عَرَضَ وَلَا جِسْمَ لَهُ سُبْحَانَهُ.

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Adapun Sifat-sifat Salbiyah adalah sifat yang maknanya mengandung penafian atau peniadaan terhadap hal-hal yang tidak layak bagi Allah Swt. Misalnya, sifat Qidam menafikan adanya ketiadaan yang mendahului Allah. Sifat Baqa menafikan adanya ketiadaan yang akan datang (kemusnahan). Sifat Mukhalafah lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah berbeda secara totalitas dari makhluk-Nya, baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan. Dalam analisis teologis, hal ini berarti Allah bukan merupakan Jauhar (substansi materi), bukan 'Aradh (aksidensi/sifat materi), dan bukan pula Jism (tubuh/fisik) yang menempati ruang dan waktu.

Kategori ketiga adalah Sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah (ma'ani qaimatun bi dzatihi) yang memberikan pengaruh pada ciptaan-Nya. Sifat ini terdiri dari Qudrah, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama', Bashar, dan Kalam. Inilah sifat-sifat yang menunjukkan keaktifan Allah dalam mengatur semesta.

ثُمَّ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ كُلُّ صِفَةٍ مَوْجُودَةٍ قَائِمَةٍ بِمَوْجُودٍ أَوْجَبَتْ لَهُ حُكْمًا، فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ الْمُمْكِنِ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ، وَالْإِرَادَةُ تَخْصِيصُ الْمُمْكِنِ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.