Mengenal Allah Swt atau Ma’rifatullah merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang mukallaf. Tanpa landasan akidah yang kokoh, seluruh amal ibadah kehilangan ruh dan orientasi teologisnya. Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dari madrasah Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah guna memagari umat dari pemahaman tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan sifat). Kajian ini akan membedah sifat-sifat wajib bagi Allah yang terbagi menjadi empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah, dengan merujuk pada teks-teks otoritatif wahyu dan penjelasan para muhaqqiqin.

Kewajiban pertama bagi setiap individu yang telah mencapai usia baligh dan berakal adalah mengetahui apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Swt. Hal ini ditegaskan dalam berbagai nash yang memerintahkan manusia untuk merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya guna mencapai keyakinan yang menghujam ke dalam sanubari. Berikut adalah landasan utama mengenai kemurnian tauhid dalam menetapkan sifat-sifat Allah Swt:

Dalam Artikel

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ. اَللّٰهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Dalam tinjauan mufassir, surah ini merupakan sepertiga Al-Quran karena mengandung prinsip-prinsip ketuhanan yang absolut. Sifat Wahdaniyyah (Keesaan) yang termaktub dalam kata Ahad menafikan adanya kam muttashil (bilangan yang menyatu pada zat) dan kam munfashil (bilangan yang terpisah). Allah Maha Esa dalam zat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Penegasan bahwa Allah adalah Ash-Shamad menunjukkan bahwa Dia adalah muara dari segala ketergantungan makhluk, sementara Dia sendiri tidak membutuhkan ruang, waktu, maupun sebab-sebab material untuk eksis.

Setelah memahami keesaan-Nya, kita harus menyelami sifat-sifat Salbiyyah yang berfungsi untuk meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Tuhan. Sifat-sifat ini meliputi Qidam (Dahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah. Landasan mengenai keabadian dan perbedaan mutlak Allah dengan makhluk-Nya dijelaskan dalam teks berikut:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ. لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat (QS. Asy-Syura: 11). Secara epistemologis, sifat Al-Awwal menunjukkan sifat Qidam yang hakiki, yakni keberadaan Allah mendahului segala sesuatu tanpa ada permulaan (as-sabqu bil 'adam). Sifat Al-Akhir merujuk pada Baqa, di mana Allah tetap ada setelah seluruh alam semesta fana. Frasa Laisa Kamitslihi Syaiun merupakan kaidah pamungkas dalam ilmu akidah yang membatalkan seluruh bentuk antropomorfisme. Allah mendengar dan melihat, namun pendengaran dan penglihatan-Nya tidak menggunakan perangkat biologis (tanzih), melainkan merupakan sifat azali yang menyingkap segala sesuatu yang ada.

Kategori selanjutnya adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada zat Allah yang memberikan pengaruh pada alam semesta. Sifat ini meliputi Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Berikut adalah teks yang menggambarkan kemahakuasaan dan kehendak mutlak Allah Swt:

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ. وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاءَ