Shalat merupakan tiang agama yang menjadi pembeda utama antara seorang mukmin dengan kekufuran. Namun, shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban tanpa adanya kehadiran hati (hudhurul qalb) tidak akan memberikan dampak transformatif pada jiwa pelakunya. Khusyu bukan sekadar ketenangan fisik, melainkan sebuah kondisi psikis-spiritual di mana seorang hamba merasa sepenuhnya berada di hadapan Sang Khaliq. Secara etimologis, khusyu bermakna ketundukan, kerendahan hati, dan ketenangan. Dalam terminologi syariat, ia mencakup ketenangan anggota badan dan konsentrasi pikiran yang terpusat hanya pada komunikasi vertikal dengan Allah Azza wa Jalla. Tanpa khusyu, shalat laksana jasad tanpa ruh yang kering dari esensi penghambaan.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya. (QS. Al-Mu'minun: 1-2).
Syarah dan Tafsir: Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa khusyu dalam shalat hanya dapat diraih oleh mereka yang mengosongkan hatinya dari segala urusan duniawi dan lebih mengutamakan interaksi dengan Allah di atas segalanya. Kata Aflaha memberikan jaminan kebahagiaan abadi bagi mereka yang mampu menghadirkan rasa takut (khasyyah) dan ketenangan (thuma'ninah) saat berdiri di hadapan Rabbul Alamin. Khusyu di sini mencakup pandangan mata yang tertuju ke tempat sujud dan hati yang bergetar karena mengagungkan kebesaran Allah. Ini adalah fondasi pertama dalam meraih keberhasilan spiritual yang hakiki.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Terjemahan: Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46).
Syarah dan Tafsir: Ayat ini membedah psikologi ibadah bahwa shalat akan terasa sangat berat dan menjadi beban rutin jika dilakukan tanpa landasan khusyu. Kunci utama khusyu menurut ayat ini adalah Al-Yaqin, yaitu keyakinan mendalam akan adanya pertemuan dengan Allah (Liqa-ullah). Seorang mufassir menekankan bahwa kesadaran akan kematian dan kepastian kembali kepada Allah adalah pendorong utama seseorang untuk memperbaiki kualitas shalatnya. Ketika seseorang merasa bahwa shalat yang ia lakukan mungkin merupakan shalat terakhirnya (shalaatan muwaddi'), maka secara otomatis seluruh panca indera dan pikirannya akan terfokus secara totalitas.
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim).

