Mengenal Allah Swt atau Ma'rifatullah merupakan fondasi utama dalam bangunan keimanan seorang hamba. Tanpa landasan teologis yang kokoh, peribadatan seseorang berisiko terjebak dalam ruang hampa tanpa arah yang jelas. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam madzhab teologi Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, para ulama telah merumuskan sistematika pengenalan sifat-sifat Allah guna menjaga kemurnian tauhid dari paham antropomorfisme (tasybih) maupun ateisme (ta'thil). Kajian ini akan membedah secara komprehensif mengenai sifat-sifat yang secara rasional dan transendental wajib ada pada Zat Yang Maha Kuasa, yang dikenal dengan istilah Sifat Dua Puluh.

فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى مَنْ كُلِّفَا مُـمَكَّنًا أَنْ يَعْرِفَ اللهَ الْعَلِي بِمَا يَجِبُ لَهُ وَمَا يَسْتَحِيلُ فِي حَقِّهِ وَمَا يَجُوزُ، وَمَعْنَى الْوُجُودِ أَنَّهُ ثَابِتٌ لَا مَحَالَةَ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا، وَدَلِيلُهُ وُجُودُ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ الَّتِي لَا بُدَّ لَهَا مِنْ صَانِعٍ قَدِيمٍ مُتَّصِفٍ بِالْكَمَالِ الْمُطْلَقِ.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah Mendalam:

Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf yang memiliki kemampuan akal adalah mengenal Allah Yang Maha Tinggi dengan mengetahui apa yang wajib bagi-Nya, apa yang mustahil bagi-Nya, dan apa yang jaiz (mungkin) bagi-Nya. Sifat pertama adalah Al-Wujud (Ada). Secara ontologis, Wujud merupakan sifat nafsiyyah, yakni sifat yang menunjukkan keberadaan Zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Akal sehat tidak akan mungkin membayangkan adanya alam semesta yang teratur ini tanpa adanya Sang Pencipta yang Wajib al-Wujud (Keberadaannya bersifat niscaya). Dalil aqli yang digunakan adalah hukum kausalitas; setiap akibat (makhluk) pasti memiliki sebab (Khalik). Keberadaan alam yang bersifat baru (hadits) menjadi bukti otentik atas eksistensi Pencipta yang Azali.

ثُمَّ يَلِي ذَلِكَ صِفَاتُ السَّلْبِيَّةِ وَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ تَعْنِي أَنَّهُ لَا يُشْبِهُ خَلْقَهُ فِي ذَاتِهِ وَلَا فِي صِفَاتِهِ وَلَا فِي أَفْعَالِهِ، فَلَيْسَ جِسْمًا وَلَا عَرَضًا وَلَا مَحْدُودًا بِزَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam:

Setelah sifat nafsiyyah, terdapat lima sifat salbiyyah. Sifat salbiyyah adalah sifat yang berfungsi untuk meniadakan atau menyangkal hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Pertama, Al-Qidam (Dahulu tanpa awal), yang meniadakan ketiadaan sebelum keberadaan-Nya. Kedua, Al-Baqa' (Kekal), yang meniadakan ketiadaan setelah keberadaan-Nya. Ketiga, Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), yang menegaskan bahwa Allah secara mutlak tidak menyerupai makhluk-Nya. Dalam perspektif ini, Allah bukanlah materi (jism), bukan pula sifat materi ('aradh), dan tidak terikat oleh dimensi ruang maupun waktu. Keempat, Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), menunjukkan ketidakbutuhan Allah pada ruang atau pencipta lain. Kelima, Al-Wahdaniyyah (Esa), yang meniadakan dualitas atau pluralitas pada Zat, Sifat, dan Perbuatan-Nya.

وَأَمَّا صِفَاتُ الْمَعَانِي فَهِيَ سَبْعُ صِفَاتٍ قَائِمَةٌ بِالذَّاتِ، وَهِيَ: الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ، وَالْإِرَادَةُ تَخْصِيصُ الْمُمْكِنِ بِبَعْضِ مَا يَجُوزُ عَلَيْهِ، وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam: