Shalat merupakan tiang agama yang menjadi barometer utama kualitas keimanan seorang hamba. Namun, shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban tanpa kehadiran hati (hudhurul qalb) kehilangan esensi spiritualnya. Khusyu bukan hanya sekadar ketenangan fisik, melainkan sebuah kondisi psikis di mana seorang hamba merasa rendah, tunduk, dan terputus dari segala urusan duniawi saat menghadap Sang Khalik. Secara etimologis, khusyu bermakna ketundukan dan kerendahan hati. Dalam terminologi syariat, ia mencakup ketenangan anggota badan serta konsentrasi penuh pikiran pada bacaan dan gerakan shalat. Para ulama salaf menekankan bahwa shalat tanpa khusyu bagaikan jasad tanpa nyawa. Berikut adalah bedah materi mendalam mengenai landasan dan tata cara mencapai derajat khusyu tersebut.
Landasan pertama yang menjadi pijakan utama keberuntungan seorang mukmin adalah pencapaian khusyu dalam shalatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam pembukaan Surah Al-Mu'minun:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ . وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. (QS. Al-Mu'minun: 1-5).
Dalam kacamata mufassir, kata Aflaha mengisyaratkan keberuntungan yang abadi dan komprehensif di dunia dan akhirat. Penggunaan isim fail Khashi'un menunjukkan bahwa khusyu harus menjadi sifat yang melekat (malakah) dalam diri mushalli (orang yang shalat). Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa khusyu tercapai ketika hati sibuk hanya dengan Allah dan merasa tenang di hadapan-Nya. Hal ini menuntut adanya sinkronisasi antara gerakan lisan yang membaca ayat dengan tadabbur makna di dalam hati, sehingga timbul rasa takut (khauf) dan harap (raja) yang seimbang.
Metafisika Permohonan: Bedah Komprehensif Waktu-Waktu Mustajab dalam Tradisi Nubuwwah
Langkah kedua untuk mencapai khusyu adalah dengan menghadirkan perasaan Ihsan, yaitu kesadaran penuh akan pengawasan Allah. Hal ini didasarkan pada hadits Jibril yang sangat masyhur:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan dan Syarah Mendalam:

