Dalam diskursus teologi Islam, pengenalan terhadap Allah Swt atau yang sering disebut sebagai Ma'rifatullah merupakan titik berangkat utama bagi setiap mukalaf. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman akidah melalui klasifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah. Hal ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah upaya rasional dan tekstual untuk memurnikan tauhid dari noda tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan sifat). Memahami sifat-sifat ini menuntut ketajaman akal dalam membedakan antara apa yang secara logika niscaya (wajib), mustahil (mumtani'), dan mungkin (ja'iz) bagi Dzat Yang Maha Kuasa. Artikel ini akan membedah secara komprehensif struktur sifat-sifat tersebut dengan merujuk pada teks-teks klasik yang otoritatif.
TEKS ARAB BLOK 1
فَأَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ شَرْعًا مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى، وَمَعْنَى الْمَعْرِفَةِ هُوَ الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيلٍ. فَالْوُجُودُ لِلَّهِ تَعَالَى صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ، وَهُوَ عَيْنُ الذَّاتِ عِنْدَ الْأَشْعَرِيِّ، وَهِيَ الصِّفَةُ الَّتِي لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهَا، وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ حُدُوثُ الْعَالَمِ، إِذْ كُلُّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَاجِبِ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Kewajiban pertama bagi setiap mukalaf menurut syariat adalah mengenal Allah Ta'ala. Makna makrifat di sini adalah keyakinan yang kokoh (jazm) yang sesuai dengan realitas (mutabiq lil waqi') berdasarkan dalil atau argumentasi. Sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Dalam perspektif Imam al-Asy'ari, Wujud adalah sifat nafsiyyah, yakni sifat yang menunjukkan hakikat Dzat itu sendiri tanpa tambahan makna lain. Secara ontologis, eksistensi Allah bersifat Wajib al-Wujud (niscaya adanya), di mana akal tidak dapat membayangkan ketiadaan-Nya. Dalil aqli yang diajukan adalah fenomena kebaharuan alam (huduts al-alam). Karena alam semesta ini bersifat baru dan berubah-ubah, maka secara logika ia memerlukan Sang Pencipta yang keberadaan-Nya tidak diawali oleh ketiadaan dan tidak membutuhkan pencipta lain.
TEKS ARAB BLOK 2
ثُمَّ يَلِي ذَلِكَ صِفَاتُ السَّلْبِ، وَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ وَالْقِيَامُ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى السَّلْبِ هُوَ نَفْيُ مَا لَا يَلِيقُ بِاللَّهِ تَعَالَى. فَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ تَعْنِي أَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ بِجِرْمٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ، وَلَا يَمُرُّ عَلَيْهِ زَمَانٌ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Selanjutnya adalah Sifat Salbiyyah yang berjumlah lima: Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Makna salbiyyah adalah menafikan atau meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Secara khusus, Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah bukan merupakan materi (jirm) yang membutuhkan ruang, bukan pula sifat materi (aradh) yang menempel pada benda. Allah tidak terikat oleh ruang dan tidak pula dilingkupi oleh dimensi waktu, karena ruang dan waktu adalah makhluk. Penjelasan ini berlandaskan pada teks Al-Quran Surah Asy-Syura ayat 11 yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Ini adalah fondasi tanzih (penyucian) agar manusia tidak terjebak dalam antropomorfisme.

