Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kewajiban fundamental dan paling asasi bagi setiap mukallaf. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam disiplin ilmu kalam yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, pemahaman mengenai sifat-sifat Allah dikategorikan secara sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan). Ilmu ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah konstruksi berpikir logis yang berlandaskan pada wahyu Al-Quran dan Sunnah. Para ulama menegaskan bahwa ma’rifatullah adalah kunci utama dalam mencapai derajat ihsan, di mana seorang hamba menyadari sepenuhnya kehadiran dan keagungan Sang Pencipta dalam setiap hembusan nafasnya.
فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْإِنْسَانِ مَعْرِفَةُ الْإِلَهِ بِاسْتِيقَانِ وَالنَّظَرُ الْمُؤَدِّي لِلْمَعْرِفَةِ وَقَدْ حَكَى فِيهِ الْإِجْمَاعَ مَنْ لَهُ مَعْرِفَةٌ. وَيَجِبُ لِلَّهِ تَعَالَى عِشْرُونَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ وَالْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ وَكَوْنُهُ قَادِرًا وَمُرِيدًا وَعَالِمًا وَحَيًّا وَسَمِيعًا وَبَصِيرًا وَمُتَكَلِّمًا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Kewajiban pertama bagi setiap manusia adalah mengenal Tuhan dengan keyakinan yang kokoh (istiqan) serta melalui proses penalaran yang mengantarkan pada pengetahuan tersebut. Para ulama ahli hakikat telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan) mengenai kewajiban ini. Secara sistematis, terdapat 20 sifat yang wajib bagi Allah yang terbagi dalam empat kategori: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah. Sifat-sifat ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah metode edukasi akidah agar umat Islam memiliki kerangka berpikir yang selamat dari penyimpangan teologis. Mempelajari sifat-sifat ini berarti membedah bagaimana Allah memanifestasikan diri-Nya dalam alam semesta tanpa harus menyerupai makhluk-Nya sedikit pun.
الْوُجُودُ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْحَالُ الْوَاجِبَةُ لِلذَّاتِ مَا دَامَتِ الذَّاتُ غَيْرَ مُعَلَّلَةٍ بِعِلَّةٍ. ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسَةٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلُبُ وَتَنْفِي عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ مِنَ النَّقْصِ وَالْحُدُوثِ وَالْفَنَاءِ وَالْمُمَاثَلَةِ لِلْمَخْلُوقَاتِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Sifat pertama adalah Al-Wujud (Ada), yang dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah. Secara filosofis, wujud Allah adalah wujud yang bersifat dharuri (niscaya) dan qadim (tanpa permulaan), berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mumkin (mungkin ada atau tidak ada). Selanjutnya adalah Sifat Salbiyah yang terdiri dari lima sifat: Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatuhu lil Hawadith (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Disebut Salbiyah karena fungsi epistemologisnya adalah untuk meniadakan atau menafikan segala atribut kekurangan dari zat Allah. Misalnya, Mukhalafatuhu lil Hawadith menegaskan secara mutlak bahwa Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, bentuk, maupun dimensi fisik yang menjadi karakteristik utama dari alam semesta.
ثُمَّ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ سَبْعَةٌ: الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُودِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى تَقْتَضِي أَحْكَامًا زَائِدَةً عَلَى الذَّاتِ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ. وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Kelompok ketiga adalah Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang menetap pada Zat Allah. Sifat ini meliputi Qudrah (Kuasa), Iradah (Berkehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Berbeda dengan sifat Salbiyah yang bersifat menafikan kekurangan, sifat Ma’ani adalah sifat yang secara positif ada pada Zat Allah. Sebagai contoh, Qudrah adalah sifat yang dengannya Allah menciptakan atau meniadakan segala sesuatu yang bersifat mungkin (alam semesta) sesuai dengan ketentuan Iradah-Nya. Sementara itu, Ilmu Allah bersifat syamil (menyeluruh), mencakup segala yang wajib, yang mustahil, dan yang mungkin, tanpa didahului oleh ketidaktahuan atau keraguan sedikit pun. Hal ini menegaskan kedaulatan mutlak Allah dalam mengatur seluruh tatanan kosmik.
وَأَمَّا الصِّفَاتُ الْمَعْنَوِيَّةُ فَهِيَ تَلَازُمُ صِفَاتِ الْمَعَانِي، وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا وَمُرِيدًا وَعَالِمًا وَحَيًّا وَسَمِيعًا وَبَصِيرًا وَمُتَكَلِّمًا. وَهِيَ أَحْوَالٌ لِلذَّاتِ لَا تُعَلَّلُ بِعِلَّةٍ بَلْ هِيَ لَازِمَةٌ لِصِفَاتِ الْمَعَانِي. فَمَنْ ثَبَتَتْ لَهُ صِفَةُ الْعِلْمِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ عَالِمًا، وَمَنْ ثَبَتَتْ لَهُ صِفَةُ الْقُدْرَةِ فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ قَادِرًا، وَهَكَذَا فِي بَقِيَّةِ الصِّفَاتِ لِتَكْمُلَ مَعْرِفَةُ الْعَبْدِ بِرَبِّهِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Kategori terakhir adalah Sifat Ma’nawiyah, yang merupakan konsekuensi logis dan teologis dari adanya sifat Ma’ani. Sifat-sifat ini menegaskan kondisi Allah sebagai Zat yang Maha Kuasa (Kaunuhu Qadiran), Maha Berkehendak (Kaunuhu Muridan), dan seterusnya hingga Maha Berfirman (Kaunuhu Mutakalliman). Dalam perspektif teologi, hubungan antara Ma’ani dan Ma’nawiyah menunjukkan kesempurnaan yang tak terpisahkan antara sifat dan zat. Jika kita meyakini Allah memiliki sifat Ilmu, maka secara otomatis Allah senantiasa dalam keadaan Mengetahui secara aktual dan abadi. Pemahaman ini menutup celah bagi pemikiran yang mencoba memisahkan antara Zat Tuhan dengan fungsionalitas sifat-Nya, sehingga akidah seorang mukmin tetap terjaga dalam koridor tanzih (mensucikan Allah dari segala kekurangan).

