Perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap keagamaan secara drastis, menempatkan Generasi Z di persimpangan jalan yang penuh dinamika. Hari ini, gawai bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang kelas, masjid virtual, sekaligus mimbar tempat nilai-nilai spiritualitas didefinisikan ulang. Bagi Gen Z, yang lahir dan tumbuh dalam dekapan internet, dakwah tidak lagi identik dengan duduk bersila di atas karpet masjid mendengarkan ceramah berjam-jam. Mereka mengonsumsi pesan-pesan agama melalui potongan video berdurasi pendek di TikTok, infografis estetis di Instagram, atau utas singkat di X. Pergeseran medium ini membawa kemudahan luar biasa, namun di balik kepraktisan tersebut, tersimpan tantangan besar yang menguji kedalaman iman dan keluhuran akhlak.
Salah satu tantangan paling krusial dalam dakwah digital hari ini adalah pendangkalan pemahaman agama akibat konsumsi konten yang serbainstan. Agama sering kali direduksi menjadi sekadar komoditas visual yang harus menarik perhatian dalam beberapa detik pertama. Akibatnya, ruang untuk tadabbur, kajian mendalam, dan pemahaman konteks sejarah menjadi terpinggirkan. Gen Z rentan terjebak dalam fenomena merasa tahu padahal baru menyentuh kulit luar dari suatu hukum syariat. Dalam konteks inilah, Al-Quran mengingatkan kita pentingnya melakukan verifikasi dan tidak tergesa-gesa dalam menerima informasi, sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Sikap tabayyun atau verifikasi ini harus menjadi fondasi utama bagi generasi muda agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi keagamaan yang dangkal atau bahkan menyesatkan yang berseliweran di lini masa mereka.
Tantangan ini kian diperumit oleh kuasa algoritma media sosial yang dirancang untuk memicu emosi demi meningkatkan interaksi. Konten-konten keagamaan yang provokatif, kontroversial, atau yang gemar menyalahkan kelompok lain sering kali mendapatkan panggung yang lebih luas dibanding kajian yang menyejukkan. Para dai muda digital kerap dihadapkan pada godaan besar untuk melacurkan substansi dakwah demi mengejar jumlah penonton, suka, dan pengikut. Ketika popularitas digital menjadi berhala baru, esensi dakwah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT terancam bergeser menjadi ajang pemuasan ego dan pencarian validasi manusia.
Dampak nyata dari pergeseran orientasi ini terlihat jelas pada degradasi kesantunan di ruang digital. Kolom komentar media sosial sering kali berubah menjadi medan perang caci maki antar-umat seagama hanya karena perbedaan pemahaman yang bersifat cabang atau furu'iyyah. Generasi Z yang sedang mencari identitas keagamaan kerap disuguhi tontonan debat kusir tanpa adab, yang jauh dari prinsip akhlakul karimah. Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dan tutur kata yang baik dalam berinteraksi, sebagaimana perintah Allah SWT:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah dan komunikasi keagamaan harus dibangun di atas pilar kesantunan, bukan kebencian atau sikap merasa diri paling benar yang kerap merusak ukhuwah Islamiyah.
Oleh karena itu, penting untuk merekonstruksi pemahaman Gen Z bahwa adab mendahului ilmu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Menuntut ilmu agama secara digital tidak boleh menghilangkan rasa takzim kepada para ulama dan perbedaan pendapat. Kebebasan berpendapat di media sosial tidak serta-merta memberi hak bagi siapa saja untuk berbicara tentang urusan agama tanpa kapasitas keilmuan yang memadai. Gen Z perlu dibimbing

