Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Allah Swt atau makrifatullah menjadi puncak dari segala disiplin ilmu. Para ulama mutakallimun dari kalangan Asy-ariyyah dan Maturidiyyah telah merumuskan sistematika pemahaman sifat-sifat Allah yang wajib diketahui secara terperinci guna membentengi umat dari syubhat pemikiran yang menyimpang. Sifat wajib bagi Allah bukanlah sekadar atribut yang menempel, melainkan representasi dari kesempurnaan zat-Nya yang mutlak, yang secara akal (aqli) dan dalil agama (naqli) harus ada pada-Nya. Pengetahuan ini bukan hanya latihan intelektual, melainkan sarana pensucian jiwa agar manusia menyadari posisi kehambaannya di hadapan Sang Khalik yang Maha Sempurna dalam segala dimensi-Nya.
Pentingnya memahami sifat Wujud sebagai sifat nafsiyyah yang menjadi pintu gerbang utama dalam mengenal Allah Swt ditegaskan dalam banyak teks otoritatif. Keberadaan Allah adalah kepastian yang bersifat wajib al-wujud, yang berarti keberadaan-Nya tidak membutuhkan pencipta dan tidak mungkin dibayangkan ketiadaan-Nya dalam nalar yang sehat.
أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى. وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ السَّنُوسِيُّ فِي أُمِّ الْبَرَاهِينِ: فَأَمَّا الصِّفَاتُ الْوَاجِبَةُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ فَعِشْرُونَ صِفَةً، فَأَوَّلُهَا الْوُجُودُ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا بِفَاعِلٍ، بَلْ وُجُودُهُ ذَاتِيٌّ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Imam As-Sanusi dalam kitab Umm al-Barahin menjelaskan bahwa sifat wajib bagi Allah berjumlah dua puluh, dan yang pertama adalah Al-Wujud. Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjuk pada zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Secara teologis, Wujud Allah adalah Wujud Hakiki yang tidak didahului oleh ketiadaan (adam) dan tidak akan diakhiri oleh sirna. Berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat mumkinul wujud (boleh ada dan boleh tidak ada), wujud Allah adalah landasan dari segala eksistensi di alam semesta ini.
Setelah menetapkan Wujud, maka akal secara otomatis harus menetapkan sifat Qidam (Terdahulu) dan Baqa (Kekal). Allah Swt tidak terikat oleh dimensi waktu, karena Dialah yang menciptakan waktu itu sendiri. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan tasalsul (mata rantai tanpa akhir) yang mustahil secara logika.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَقَالَ الْإِمَامُ اللَّقَانِيُّ فِي جَوْهَرَةِ التَّوْحِيدِ: فَقِدَمٌ بِالذَّاتِ لِلَّهِ اسْتُبِينَ، وَكَذَا الْبَقَاءُ لَهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَمَعْنَى الْقِدَمِ سَلْبُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ سَلْبُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ، فَكُلُّ مَا سِوَاهُ حَادِثٌ قَابِلٌ لِلْفَنَاءِ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ التَّغَيُّرِ وَالزَّوَالِ.
Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Imam al-Laqani dalam Jauharatut Tauhid menegaskan bahwa Qidam secara zat bagi Allah telah jelas, demikian pula Baqa. Qidam bermakna meniadakan ketiadaan yang mendahului keberadaan (tidak ada awal bagi-Nya), sedangkan Baqa bermakna meniadakan ketiadaan yang menyusul keberadaan (tidak ada akhir bagi-Nya). Ini adalah sifat Salbiyyah yang menyucikan Allah dari sifat-sifat baru (huduts). Allah bersifat azali (tanpa awal) dan abadi (tanpa akhir), sehingga segala sesuatu yang bergantung pada waktu adalah makhluk, sementara Sang Pencipta melampaui segala batasan temporal tersebut.
Prinsip ketiga yang sangat krusial dalam akidah adalah Mukhalafatuhu lil Hawaditsi, yaitu ketidaksamaan Allah dengan makhluk-Nya. Hal ini merupakan pilar tanzih (penyucian) yang membedakan antara Sang Pencipta dengan yang diciptakan. Allah tidak memiliki rupa, tidak bertempat, tidak berpihak, dan tidak tersusun dari bagian-bagian sebagaimana makhluk.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَقَالَ الْإِمَامُ الطَّحَاوِيُّ فِي عَقِيدَتِهِ الْمَشْهُورَةِ: تَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ. فَمَنْ وَصَفَ اللَّهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ، فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْعَرَضِيَّةِ وَكُلِّ مَا يَقْتَضِي النَّقْصَ.

