Shalat merupakan tiang agama sekaligus sarana komunikasi transendental antara hamba dengan Sang Khalik. Namun, esensi dari shalat bukan sekadar gerakan mekanis yang melibatkan perpindahan posisi tubuh dari berdiri ke ruku dan sujud. Ruh dari shalat adalah khusyu. Secara etimologi, khusyu berasal dari kata khasha-a yang berarti tunduk, tenang, dan rendah hati. Dalam diskursus keilmuan Islam, para ulama mendefinisikan khusyu sebagai hadirnya hati di hadapan Allah SWT dengan rasa pengagungan dan ketakutan yang disertai dengan ketenangan anggota badan. Tanpa khusyu, shalat bagaikan jasad tanpa nyawa. Artikel ini akan membedah secara mendalam langkah-langkah mencapai khusyu melalui pendekatan teks primer Al-Quran dan As-Sunnah.

Langkah pertama dalam memahami khusyu adalah dengan merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Mu'minun yang menetapkan khusyu sebagai parameter utama keberuntungan seorang mukmin.

Dalam Artikel

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya. (QS. Al-Mu'minun: 1-2).

Syarah Tafsir: Kata Aflaha dalam ayat ini menggunakan bentuk fi'il madhi yang menunjukkan kepastian. Keberuntungan yang dimaksud bukan sekadar kesuksesan duniawi, melainkan Al-Falah yang mencakup keselamatan dari neraka dan kenikmatan abadi di surga. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khusyu dalam shalat hanya dapat dicapai oleh mereka yang mengosongkan hatinya dari kesibukan duniawi dan lebih mengutamakan interaksi dengan Allah SWT. Khusyu di sini mencakup dua dimensi: khusyu al-qalb (ketundukan hati) dan khusyu al-jawarih (ketenangan anggota tubuh). Ketika hati telah tunduk, maka secara otomatis seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam ketenangan yang sempurna.

Urgensi menjaga khusyu semakin nyata ketika kita menelaah peringatan dari Rasulullah SAW mengenai fenomena hilangnya khusyu di akhir zaman. Hal ini menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk senantiasa bermuhasabah atas kualitas ibadahnya.

أَوَّلُ شَيْءٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى لَا تَرَى فِيهَا خَاشِعًا

Terjemahan: Perkara pertama yang akan diangkat dari umat ini adalah khusyu, sehingga engkau tidak akan melihat lagi orang yang khusyu. (HR. At-Tirmidzi).

Syarah Hadits: Hadits ini memberikan peringatan keras bahwa ilmu yang paling pertama hilang dari muka bumi bukan sekadar teks-teks hafalan, melainkan rasa khusyu dalam ibadah. Syekh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan bahwa hilangnya khusyu disebabkan oleh fitnah dunia yang merasuk ke dalam hati sehingga manusia shalat secara fisik namun pikirannya berkelana ke pasar, pekerjaan, dan urusan duniawi lainnya. Oleh karena itu, mengupayakan khusyu adalah bentuk perjuangan melawan arus dekadensi spiritual di zaman modern ini.