Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa landasan akidah yang kokoh, seluruh amal ibadah akan kehilangan poros spiritualnya. Para ulama mutakallimin, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi sistematis untuk mengenal Allah Swt. melalui klasifikasi sifat-sifat wajib. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada zat Allah Swt. Memahami sifat-sifat ini bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan sebuah perjalanan ruhani untuk menyadari keterbatasan makhluk di hadapan kemutlakan Sang Khalik. Kajian ini akan mengupas tuntas klasifikasi tersebut, mulai dari sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, hingga Ma’nawiyah dengan sandaran teks-teks otoritatif.

الْأَصْلُ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَنَّ مَعْرِفَةَ اللَّهِ تَعَالَى هِيَ أَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ عَلَى الْمُكَلَّفِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالصِّفَاتُ الْوَاجِبَةُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى عِشْرُونَ صِفَةً تَنْقَسِمُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ نَفْسِيَّةٍ وَسَلْبِيَّةٍ وَمَعَانٍ وَمَعْنَوِيَّةٍ فَالنَّفْسِيَّةُ هِيَ الْوُجُودُ فَقَطْ وَالسَّلْبِيَّةُ خَمْسَةٌ وَهِيَ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Prinsip utama dalam maqam ini adalah bahwa mengenal Allah Ta’ala (Ma’rifatullah) merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf berdasarkan firman-Nya: Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (QS. Muhammad: 19). Sifat-sifat yang wajib bagi Allah berjumlah dua puluh sifat yang terbagi menjadi empat kategori utama. Pertama adalah sifat Nafsiyah, yaitu Al-Wujud (Ada). Sifat ini merujuk pada esensi zat Allah yang keberadaan-Nya bersifat mutlak dan tidak didahului oleh tiada. Kedua adalah sifat Salbiyah yang berjumlah lima, yakni Al-Qidam (Dahulu tanpa permulaan), Al-Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Al-Wahdaniyah (Esa). Sifat Salbiyah berfungsi untuk menafikan atau meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt.

ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّبْعُ الْمُسَمَّاةُ بِصِفَاتِ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ يَتَأَتَّى بِهَا إِيجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ وَالْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُومُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيضَ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Kemudian terdapat tujuh sifat yang dinamakan sebagai Sifat Ma’ani, yaitu Al-Qudrah (Kuasa), Al-Iradah (Kehendak), Al-Ilmu (Ilmu), Al-Hayat (Hidup), As-Sam’u (Mendengar), Al-Bashar (Melihat), dan Al-Kalam (Berfirman). Sifat Al-Qudrah adalah sifat azali (tanpa permulaan) yang dengannya Allah mewujudkan atau meniadakan segala sesuatu yang mungkin terjadi (mumkinat) sesuai dengan ketentuan Iradah-Nya. Sementara itu, Al-Ilmu adalah sifat yang dengannya segala sesuatu yang diketahui tersingkap secara sempurna bagi Allah, sesuai dengan realitasnya, sebuah penyingkapan yang tidak mengandung kemungkinan keliru atau keraguan sedikit pun. Sifat-sifat Ma’ani ini adalah sifat yang secara ontologis berdiri pada zat Allah dan memberikan pengaruh nyata pada alam semesta.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ فَالْقِدَمُ مَعْنَاهُ عَدَمُ الِافْتِتَاحِ لِوُجُودِهِ وَالْبَقَاءُ مَعْنَاهُ عَدَمُ الِاخْتِتَامِ لِوُجُودِهِ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ تَعْنِي أَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا عَرَضٍ وَلَا فِي جِهَةٍ وَلَا مَكَانٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3: