Surah Al-Fatihah menempati kedudukan yang sangat sentral dalam struktur Al-Quran al-Karim. Sebagai Sab’ul Matsani atau tujuh ayat yang diulang-ulang, surah ini bukan sekadar pembuka, melainkan sebuah ringkasan kosmologis yang mencakup seluruh esensi ajaran Islam. Secara ontologis, Al-Fatihah memperkenalkan identitas Sang Pencipta, hubungan-Nya dengan makhluk, serta peta jalan menuju kebahagiaan abadi. Para ulama mufassir sepakat bahwa pemahaman mendalam terhadap surah ini merupakan kunci untuk membuka gudang ilmu pengetahuan syariat. Dalam perspektif fiqih, pembacaan Al-Fatihah merupakan rukun yang menentukan sah atau tidaknya shalat seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai hadits shahih. Artikel ini akan membedah setiap fragmen ayat dengan pendekatan multidimensional, menggabungkan aspek kebahasaan, teologis, dan hukum praktis.
Pembahasan dimulai dengan kedudukan Basmalah yang menjadi pintu gerbang bagi setiap amal kebajikan. Terdapat diskursus panjang di kalangan fukaha mengenai apakah Basmalah merupakan bagian integral dari Surah Al-Fatihah ataukah ia merupakan ayat independen yang berfungsi sebagai pemisah antar surah. Imam Syafii berpendapat bahwa Basmalah adalah ayat pertama dari Al-Fatihah, sehingga wajib dibaca secara jahr dalam shalat. Sebaliknya, Imam Malik memandangnya bukan sebagai bagian dari surah tersebut dalam konteks shalat fardhu. Namun, di balik perbedaan hukum tersebut, terkandung makna teologis yang sangat dalam mengenai pengakuan atas otoritas absolut Allah di atas segala permulaan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ . قَالَا الْإِمَامُ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ: اِفْتَتَحَ بِهَا الصَّحَابَةُ كِتَابَ اللهِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهَا بَعْضُ آيَةٍ مِنْ سُورَةِ النَّمْلِ ثُمَّ اخْتَلَفُوا هَلْ هِيَ آيَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ فِي أَوَّلِ كُلِّ سُورَةٍ أَوْ مِنْ كُلِّ سُورَةٍ كُتِبَتْ فِي أَوَّلِهَا أَوْ هِيَ بَعْضُ آيَةٍ مِنْ كُلِّ سُورَةٍ أَوْ أَنَّهَا كَذَلِكَ فِي الْفَاتِحَةِ دُونَ غَيْرِهَا أَوْ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْهَا وَإِنَّمَا كُتِبَتْ لِلْفَصْلِ بَيْنَ السُّوَرِ عَلَى أَقْوَالٍ لِلْعُلَمَاءِ سَلَفًا وَخَلَفًا.
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Imam Ibn Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa para sahabat memulai penulisan Mushaf dengan kalimat ini. Para ulama sepakat bahwa Basmalah adalah bagian dari ayat dalam Surah An-Naml, namun mereka berselisih apakah ia merupakan ayat independen di setiap awal surah, atau bagian dari surah yang ditulis di awalnya, atau hanya bagian dari Surah Al-Fatihah saja, ataukah ia hanya berfungsi sebagai pemisah antar surah. Secara esoteris, memulai dengan nama Allah berarti meniadakan ego diri dan mengakui bahwa segala daya dan upaya hanyalah milik-Nya. Nama Allah (Lafdzul Jalah) adalah nama yang mencakup seluruh sifat kesempurnaan, sementara Ar-Rahman dan Ar-Rahim menunjukkan luasnya kasih sayang-Nya yang melampaui murka-Nya.
Setelah menetapkan fondasi dengan Basmalah, ayat selanjutnya membawa hamba pada pengakuan atas keagungan Allah melalui hamdalah. Pujian ini bukan sekadar ucapan lisan, melainkan pengakuan intelektual dan spiritual bahwa segala nikmat, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, bersumber dari Rabbul Alamin. Istilah Rabb dalam bahasa Arab mengandung makna kepemilikan (al-malik), pengaturan (al-mudabbir), dan pemeliharaan (al-murabbi). Ini menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan alam semesta berjalan tanpa kendali, melainkan Dia senantiasa memelihara setiap atom di jagat raya ini dengan hikmah-Nya yang tak terhingga.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ . قَالَ الْقُرْطُبِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ: الْحَمْدُ فِي اللُّغَةِ هُوَ الثَّنَاءُ بِالْكَلَامِ عَلَى الْجَمِيلِ الِاخْتِيَارِيِّ عَلَى جِهَةِ التَّبْجِيلِ. وَمَعْنَى رَبِّ الْعَالَمِينَ أَيْ مَالِكُهُمْ وَكُلُّ مَنْ مَلَكَ شَيْئًا فَهُوَ رَبُّهُ. وَالْعَالَمُونَ جَمْعُ عَالَمٍ وَهُوَ كُلُّ مَاسِوَى اللهِ تَعَالَى مِنْ جَمِيعِ الْمَخْلُوقَاتِ مِنَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَالْمَلَائِكَةِ وَالشَّيَاطِينِ وَغَيْرِهِمْ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Hamd secara bahasa adalah pujian dengan lisan atas kebaikan yang dilakukan secara sukarela sebagai bentuk pengagungan. Makna Rabbul Alamin adalah Pemilik mereka, karena setiap yang memiliki sesuatu disebut sebagai rabb-nya. Al-Alamin adalah bentuk jamak dari alam, yaitu segala sesuatu selain Allah Ta'ala, mencakup seluruh makhluk mulai dari manusia, jin, malaikat, setan, dan lainnya. Ayat ini membangun paradigma akidah bahwa tidak ada sekutu bagi Allah dalam penciptaan maupun pengaturan alam. Penggunaan kata Al-Hamd yang diawali dengan alif-lam (al-istighraq) menunjukkan bahwa segala jenis pujian dalam bentuk apa pun pada hakikatnya kembali kepada Allah semata.
Keagungan Allah yang digambarkan dalam ayat sebelumnya kemudian diperhalus dengan pengulangan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dalam kaidah tafsir, pengulangan ini berfungsi untuk menekankan (ta'kid) bahwa dominasi ketuhanan Allah dibangun di atas landasan kasih sayang, bukan tirani. Ar-Rahman merujuk pada rahmat yang luas bagi seluruh makhluk di dunia, sedangkan Ar-Rahim merujuk pada rahmat khusus bagi orang-orang mukmin di akhirat. Hal ini memberikan keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja') dalam hati seorang mukmin.
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ . قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى ذِكْرُهُ خَصَّ نَفْسَهُ بِهَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ تَنْبِيهًا لِعِبَادِهِ عَلَى سَعَةِ رَحْمَتِهِ وَأَنَّهُ لَمْ يَخْلُقْهُمْ لِيُعَذِّبَهُمْ بَلْ لِيَرْحَمَهُمْ. وَالرَّحْمَنُ أَبْلَغُ مِنَ الرَّحِيمِ لِأَنَّ زِيَادَةَ الْبِنَاءِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ الْمَعْنَى. فَهُوَ رَحْمَنُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيمُ الْمُؤْمِنِينَ خَاصَّةً.

