Ibadah puasa atau al-siyam secara etimologis bermakna al-imsak yaitu menahan diri dari segala sesuatu. Dalam kerangka konstruksi hukum Islam (Fiqih Islamiyah), puasa merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki aturan main struktural yang sangat ketat. Para ulama dari empat madzhab utama—Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali—telah mengkodifikasikan syarat dan rukun puasa melalui metode istinbath dalil yang sangat teliti. Perbedaan metodologis di antara para imam madzhab tidak menciptakan perpecahan, melainkan memperkaya khazanah hukum Islam dalam merespons dinamika pelaksanaan ibadah. Pembahasan mengenai syarat dan rukun merupakan fondasi paling vital, karena hal ini menentukan keabsahan (sihhah) atau gugurnya kewajiban suatu ibadah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
[TEKS ARAB BLOK 1]
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ . أَيَّامًا مَّعْدُوْدَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ. وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَائِطَ الصَّوْمِ تَنْقَسِمُ إِلَى شُرُوْطِ وُجُوْبٍ وَشُرُوْطِ صِحَّةٍ وَشُرُوْطٍ لَهُمَا مَعًا. فَأَمَّا الشَّرْطُ الْمُشْتَرَكُ فَهُوَ الْإِسْلَامُ وَالْعَقْلُ وَالنَّقَاءُ عَنِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ.
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Dan ketahuilah bahwa syarat-syarat puasa terbagi menjadi syarat wajib, syarat sah, serta syarat bagi keduanya sekaligus. Adapun syarat yang berserikat pada keduanya adalah Islam, berakal, serta suci dari haid dan nifas.
Dalam tafsir dan syarah fiqih lintas madzhab, ayat di atas dari Surah Al-Baqarah ayat 183-184 menjadi landasan kewajiban puasa Ramadan. Para ulama membagi syarat puasa menjadi dua kategori besar, yaitu Syarat Wajib (syuruth al-wujub) dan Syarat Sah (syuruth as-sihhah). Syarat wajib adalah kriteria yang membuat seseorang terkena beban taklif untuk berpuasa, yaitu Islam, baligh, berakal, sehat, tidak dalam keadaan musafir, dan mampu secara fisik. Sementara itu, syarat sah adalah kriteria yang menyebabkan puasa yang dikerjakan dinilai sah secara syar'i.
Imam Madzhab Empat sepakat bahwa Islam dan Akal adalah syarat mutlak yang mencakup kewajiban sekaligus keabsahan. Orang kafir tidak sah berpuasa secara langsung sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, dan orang yang hilang akal (gila) tidak dikenai taklif serta tidak sah puasanya jika melakukan imsak tanpa kesadaran syariat. Adapun kesucian dari haid dan nifas bagi wanita adalah syarat sah yang disepakati oleh seluruh madzhab; wanita yang sedang haid atau nifas haram berpuasa dan tidak sah puasanya, namun mereka wajib mengqadha hari-hari yang ditinggalkan di luar bulan Ramadan.
[TEKS ARAB BLOK 2]
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ. قَالَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: التَّبْيِيْتُ وَالتَّعْيِيْنُ شَرْطٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ. وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ: تَكْفِي نِيَّةٌ وَاحِدَةٌ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ لِمَا يُشْتَرِطُ فِيْهِ التَّتَابُعُ.

