Islam mengatur seluruh spektrum kehidupan manusia secara holistik, termasuk dalam transaksi ekonomi atau muamalah maliyah. Prinsip dasar dalam fiqih muamalah menegaskan bahwa hukum asal segala bentuk muamalah adalah boleh (al-ashlu fil muamalah al-ibahah), kecuali ada dalil syar'i yang melarangnya. Pelarangan utama dalam sistem ekonomi Islam berpusat pada pembersihan transaksi dari unsur riba, gharar (ketidakpastian berlebih), dan maysir (perjudian). Secara etimologi, riba bermakna az-ziyadah (tambahan). Adapun secara terminologi syariat, riba didefinisikan oleh para ulama mazhab sebagai tambahan spesifik tanpa imbalan pengganti yang disyariatkan dalam suatu pertukaran atau penundaan pembayaran.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ

Dalam Artikel