Praktik berdoa dalam tradisi Islam bukan sekadar fenomena psikologis untuk meluapkan harapan, melainkan sebuah epistemologi ibadah yang memiliki fondasi teologis mendalam. Para ulama hadits dan mufassir secara konsisten menegaskan bahwa doa adalah inti dari ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Namun, untuk mencapai efektivitas spiritual di mana sebuah doa dikabulkan atau mustajab, terdapat dimensi adab dan momentum temporal tertentu yang ditetapkan oleh Syariat. Artikel ini akan membedah secara ilmiah dan tekstual waktu-waktu utama terkabulnya doa melalui pendekatan syarah hadits dan tafsir klasik.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأ

