Ibadah shalat merupakan tiang agama yang menjadi barometer utama kualitas keimanan seorang hamba. Namun, shalat yang sekadar memenuhi rukun formal tanpa melibatkan kehadiran hati (hudhurul qalb) akan kehilangan esensinya sebagai sarana mi’raj ruhani. Secara etimologis, khusyu bermakna ketundukan, ketenangan, dan kerendahan hati. Secara terminologis dalam disiplin ilmu fiqih dan tasawuf, khusyu adalah kondisi di mana hati merasa tenang di hadapan Allah dengan penuh pengagungan, yang kemudian terefleksikan pada ketenangan anggota tubuh. Para ulama salaf menekankan bahwa khusyu adalah ruh dari shalat itu sendiri, sehingga tanpa khusyu, shalat bagaikan jasad yang tidak bernyawa.
[TEKS ARAB BLOK 1]
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ﴿٤﴾
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]
Terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat. (QS. Al-Mu'minun: 1-4).
Syarah: Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa al-falah (keberuntungan) dalam ayat ini dikaitkan erat dengan sifat khusyu. Khusyu dalam ayat ini bermakna as-sukun (ketenangan) dan al-mukhabbatu (kerendahan hati). Beliau menukil pendapat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa khusyu adalah rasa takut dan ketenangan. Secara analisis kebahasaan, penggunaan kata khasyi’un dalam bentuk isim fail menunjukkan sifat yang melekat dan berkelanjutan. Para mufassir menegaskan bahwa khusyu dimulai dari rasa takut kepada Allah yang bersemayam di dalam hati, lalu rasa takut tersebut memancar ke seluruh anggota tubuh sehingga orang yang shalat tidak akan disibukkan oleh gerakan-gerakan sia-sia atau pikiran duniawi.
[TEKS ARAB BLOK 2]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامَ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

