Pernah gak sih kamu lagi asyik scrolling medsos, terus tiba-tiba dada ngerasa sesak? Ngelihat teman seangkatan udah dapet kerjaan mapan, ada yang healing ke luar negeri, atau bahkan udah posting foto nikahan dengan caption estetik. Seketika langsung muncul pertanyaan di kepala, Aku kok gini-gini aja ya? Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out ini emang jadi musuh utama mental health Gen Z dan Millennial zaman sekarang. Kita dituntut buat serba cepat, serba update, sampai lupa caranya napas tenang. Akhirnya, overthinking tiap malam jadi makanan sehari-hari.
Mengubah FOMO Jadi JOMO Lewat Rasa Syukur
Langkah pertama buat ngatasin mental yang gampang goyah karena medsos adalah dengan mengubah FOMO menjadi JOMO, alias Joy of Missing Out. Kita gak perlu kok tahu semua hal atau ikutan semua tren. Islam itu mengajarkan kita buat fokus sama apa yang kita punya sekarang, bukan apa yang dipamerkan orang lain. Saat kita sibuk membandingkan diri, di situlah rasa damai itu hilang. Padahal, kunci ketenangan itu sederhana banget, yaitu bersyukur atas porsi rezeki kita masing-masing.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan jaminan yang luar biasa di dalam Al-Quran:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.
Jadi, dibanding sibuk membandingkan pencapaian kita dengan filter estetik orang lain di Instagram, mending kita fokus asah potensi diri sambil terus bersyukur. Ingat, timeline hidup tiap orang itu beda-beda, dan Allah adalah sebaik-baik perancang skenario hidup.
Healing Terbaik dengan Menyerahkan Hasil Akhir
Banyak dari kita yang overthinking karena terlalu cemas memikirkan masa depan. Gimana karir nanti? Gimana jodohnya? Gimana kalau gagal? Kecemasan ini kalau dibiarkan bisa bikin kesehatan mental kita drop. Di sinilah pentingnya konsep tawakal. Kita berusaha semaksimal mungkin, tapi untuk hasil akhir, kita pasrahkan penuh sama Allah.

