Dalam struktur keilmuan Islam, hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berfungsi sebagai bayan atau penjelas otentik terhadap prinsip-prinsip universal yang terkandung di dalam Al-Quran. Salah satu narasi epistemologis yang paling krusial dalam domain akidah dan psikologi transendental adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang agung, Abdullah ibn Masud radhiyallahu anhu. Narasi ini membedah secara komprehensif fase-fase biologis penciptaan manusia di dalam rahim yang beririsan langsung dengan penetapan takdir ilahi. Pendekatan para ulama muhadditsin dan mufassirin terhadap teks ini tidak hanya terbatas pada pembacaan tekstual, melainkan menembus batas analisis linguistik, kajian hukum fiqih ihwal janin, hingga diskursus teologis mengenai kehendak bebas manusia dan kemutlakan takdir Allah.
Kajian ini akan mengurai teks hadits monumental tersebut ke dalam beberapa blok analisis mendalam, dengan memadukan tinjauan riwayat, dirayat, serta konteks sains modern dan prinsip-prinsip tazkiyatun nafs.
[BLOK KAJIAN 1: PERIODE EM BRIOLOGIS DAN KEJUJURAN KENABIAN]
Sebelum menguraikan fase embrional manusia, Abdullah ibn Masud memberikan pengantar metodologis yang sangat penting untuk menegaskan otentisitas wahyu yang diterima oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Penegasan ini merupakan benteng epistemologis bagi umat Islam dalam menerima kabar-kabar ghaib yang berada di luar jangkauan indera manusia.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam Blok 1:
Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami, dan beliau adalah as-Sadiq (orang yang jujur) dan al-Masduq (orang yang dibenarkan perkataannya): Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah (sperma/ovum), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu pula.
Syarah Keilmuan:
Ungkapan as-Sadiq al-Masduq yang digunakan oleh Ibnu Masud menunjukkan bentuk tautsiq (pemberian kepercayaan mutlak) terhadap kapasitas kenabian. As-Sadiq berarti jujur dalam setiap ucapan yang bersumber dari dirinya, sedangkan Al-Masduq merujuk pada kebenaran berita ghaib yang diwahyukan Allah kepadanya melalui malaikat Jibril. Secara biologis dan teologis, kalimat yujma'u khalquhu (dikumpulkan penciptaannya) mengisyaratkan pengumpulan bahan-bahan dasar pembentukan manusia dari seluruh unsur tubuh di dalam rahim. Pembagian tiga fase empat puluh harian (nutfah, alaqah, mudhghah) berjumlah seratus dua puluh hari. Para ulama fiqih seperti Al-Imam Ash-Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal menggunakan batasan 120 hari ini sebagai titik krusial dalam menentukan hukum-hukum Fiqih Janin, seperti batas keharaman pengguguran kandungan secara mutlak dan penentuan kewajiban shalat jenazah bagi janin yang gugur.

